Skip to content

KENAPA HARUS MALU?

26 April 2009

logo-out

Waktu pertama kali aku bekerja di suatu perusahaan yang menggunakan tenaga kerja outsourcing, aku berkenalan dengan para pekerja lainnya. Aku bertanya, siapa nama anda, jawabnya si anu dan ini si ani. Anda karyawan perusahaan ini? Iya jawabnya. Hari demi hari berlalu, penyesuaian pun semakin baik. Dan aku heran kepada sebagian teman-teman yang ketahuan bahwa ia bukan karyawan, tapi gayanya seperti karyawan. Aku pun bertanya kembali, anda bukan karyawan perusahaan ini? Iya jawabnya, tapi kawanmu katakan bahwa anda karyawan perusahaan lain yang dipekerjakan di sini, sama dengan temanmu, ia hanya termangut-mangut aja. Dan ia katakan bahwa aku apatis dengan istilah outsourcing. Kenapa memang, karyawan outsourcing rendah sekali derajatnya. Oh itu yang menyebabkan anda malu berterus terang?

Saya merasa biasa-biasa saja, kan kita bekerja di mana saja sama, kenapa harus merasa malu. Manusia diciptakan dari unsur yang sama, keluarnya lewat pintu yang sama dan diberikan derajat yang sama. Cuma dalam realita kehidupan Allah SWT meninggikan suatu kaum atas kaum lainnya supaya kita bersyukur, dijadikan sebagian kaya dan sebagiannya miskin, dijadikan sebagian jadi pimpinan dan sebagian lainnya jadi penolongnya. Demikian juga dijadikan pendiri perusahaan dan sebagian sebagai pekerjanya baik karyawan maupun outsourcingnya. Jika diberikan kekuasaan sama pada semua orang, siapa yang bekerja? Akhirnya ia sadar juga.

Kisah/pengalaman ku ini memang terjadi hampir pada setiap orang bahwa sebutan outsourcing tidak enak di dengar. Mungkin penyebabnya bahwa ada sebagian karyawan dari suatu perusahaan yang menganggap outsourcingnya itu hina dimatanya. Dan ini sudah terjadi turun-temurun sejak dimodifikasi kata itu, terutama buat outsourcing kelas bawah.

Outsourcing kan tidak hanya untuk pekerja-pekerja kelas bawah tetapi mencakup seluruh aspek yang menunjang operasional suatu perusahaan, yang tidak menyangkut aspek managemennya (decision maker), semuanya dipakai tenaga outsource. Ini memang suatu kebijakan untuk dapat menekan biaya yang sekecil mungkin. Perusahaan yang banyak memiliki asset tentunya memakan banyak biaya operasionalnya, baik biaya maintenance atau pun biaya pajak, biaya pesangon, dan lain-lain.

Terlepas dari semua ini bahwa kita semestinya tidak merasa terbebani dengan hanya perbedaan kesempatan yang diberikan Allah swt, tetapi kita harus bersyukur dan bekerja dengan baik sehingga suatu saat nanti mungkin Allah swt memberikan kesempatan lain untuk menjadi lebih baik. Hidup kan tidak selamanya di bawah terus….tapi bagai roda yang selalu berputar, tergantung kekuatan putarannya, lambat atau cepat.

About these ads

From → pengalaman

2 Komentar
  1. Than atas pro nya, mudah2an yang lain juga pro he he he
    Mudah2an tambah ganteng aja

  2. Allan Ganteng permalink

    Betul Bang Boy…bahkan Telkomsel sendiri merupakan perusaahn outsourcing, outsourcing bagi masyarakat ….. setuju ama pendapat bang boy

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: