WAJIB PAJAK DAN GAYUS
Indonesia merupakan negara besar dan mempunyai penduduk yang banyak, tentu akan berdampak pada tingkat penerimaan pajak. Bila perekonomian Indonesia terus berkembang maka penerimaan pajak juga semakin meningkat. Dan ini merupakan harapan kita bersama dalam rangka membangun masa depan yang lebih baik untuk menuju masyarakat aman sejahtera. Pajak merupakan tulang punggung perekonomian.
Setiap hari pemerintah mengajak seluruh warga negara untuk taat pajak baik perseorangan maupun perseroan dan mengawasi penggunaannya. Ini tentu hal yang baik untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat bayar pajak. Namun di sisi lain pemerintah lupa mengontrol pekerjanya untuk benar-benar memanfaatkan pajak sesuai yang ditetapkan.Seperti kasus gayus yang katanya terjadi penggelapan pajak untuk memperkaya dirinya, sangat mencoreng pemerintah dan membuat masyarakat jadi malas membayar pajak.
Banyak masyarakat yang menentang bayar pajak seperti di facebook, yang mencari dukungan untuk tidak membayar pajak. Demikian opini yang muncul di sejumlah koran dan majalah, mengajak masyarakat untuk tidak bayar pajak. Memang patut kita pahami bahwa masyarakat saat sudah mulai sadar untuk membayar pajak namun dengan kasus ini membuat masyarakat jadi ragu karena “kenapa aku harus bayar pajak untuk memperkaya petugas pajak???” mendingan aku memperkaya diri saja…:)
Pemerintah SBY belum mampu mendidik aparaturnya untuk bersikap baik dan bekerja dengan ikhlas serta menerima gaji sesuai kesanggupan. Tapi mungkin dibiarkan mereka mencuri untuk memperkaya diri. Toh yang di curi juga uang rakyat bukan uang pemerintah, mengapa harus ditindak. Kalau ini yang dibangun di lingkungan perpajakan maka sulit rasanya menumbuhkan kembali kesadaran masyarakatuntuk bayar pajak.
Kita melihat bangsa America, pajaknya mampu menbangun dirinya dan juga bangsa lain di dunia dibawah USAID, sepatutnya kita contoh.
Kepada pemerintah kita berharap bahwa gayus dapat ditangkap dan dipenjarakan serta pengembalian asset negara yang dimilikinya serta membina kembali aparatur agar tidak menjadi gayus-gayus, bukan semboyan “hilang gayus satu, tumbuh seribu” tetapi “gayus mati, maka matilah gayus”. Ini akan memberikan kepercayaan kembali kepada pemerintah untuk taat pajak.
“Orang bijak taat pajak”
Posted on 30 Maret 2010, in Tak terkategori and tagged agama, gayus, opini, pajak, Pemimpin, pengalaman. Bookmark the permalink. 3 Komentar.














dasar tuh gayus…
orang udah capek bayar pajak duitnya dikorup !
kongkrit aja “orang Bijak Boikot Pajak”
nice place to get a new atmosphere here, just wanna say you’ve a good skill seen on your post, really, I like it very much…keep blogging my Brada!!!