Badruddin

Jika Semua Ada Apa Pun Bisa

MASYARAKAT KAKI LIMA

Masyarakat kaki lima hampir habis ditelan satu gelombang kebijaksanaan. Gelombang kebijaksanaan menyeret mereka dalam arus kehidupan pinggiran, Kebijaksanaan pun mengalir, lahir dan sekaligus ‘membunuih’ aspirasi mereka, sehingga penghuni masyarakat kaki lima tidak mampu lagi mengayun pedal becak, menyuguhkan menu belanja di gang-gang kecil atau menjajakan koran-koran di perempatan jalan raya. Mereka adalah segerombolan manusia yang mudah didepak oleh satu sistem kekuasaan, karena sering dianggap membandel.

Read the rest of this entry »

Filed under: Sosial , ,

HIDUP DENGAN BERSOSIALISASI

Budaya kita menghabiskan separo waktunya dengan meninggalkan pesan, mengobrol di telepon genggam, menatap layar televisi atau komputer, nonton film, atau duduk dibelakang setir mobil. Leluhur kita tidak hidup demikian; mereka mengobrol berhadapan muka, menceritakan berbagai kisah, menguping, menulis surat dan bahkan pergi jalan-jalan hanya untuk bersenang-senang, bukan berolah raga. Masyarakat kita melupakan seni bersosialisasi. Kita sudah mempercayai bahwa kita hidup untuk bekerja, bukan bekerja untuk hidup dan tidak lagi menyisihkan waktu untuk bertemu orang baru.

Keadaan ini sangatlah disayangkan, karena sebagian dari alasan mengapa ras manusia telah berevolusi bersar-besaran adalah dorongan kita mencari teman dan saling berbagi pengalaman dan petualangan. Read the rest of this entry »

Filed under: Sosial , , ,

PERKAWINAN PROSES ALAMIAH DALAM RANGKA PEMBENTUKAN BANGSA DAN UMAT

Dalam surat Maryam ayat 4-6 Allah berfirman, Yang artinya : Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku (4).

Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku1 sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang

putera. (5)

yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai.” (6).

Ayat-ayat Surah Maryam di atas dengan maksudnya adalah lukisan betapa rindunya Nabi Zakaria akan keturunan yang akan melanjutkan keberadaan Keluarga Nabi Yakub di dunia ini.

Dalam keadaan telah tua bangka, tulang belulangnya telah rapuh dan uban telah menghiasi kepalanya, beliau tidak merasa kecewa karena doanya belum makbul, kemandulan isterinya belum dapat dipulihkan, beliau berusaha dan berdoa terus, akhirnya mendapat anak yang akan mewarisinya, yang akan melanjutkan keturunan Nabi Yakub.

Ayat-ayat di atas menyuruh kita bermenung, mendesak kita untuk tafakur, betapa tidak bahagianya orang yang tidak punya anak, betapa seih dan murungnya orang tidak punya keturunan. Dan juga memberi isyarat, bahwa betapa bodoh dan dungunya orang yang sengaja berusaha supaya tidak mendapat keturunan. Orang yang demikian pada hakikatnya telah melawan Sunnatullah, yang termaktub dalam Al-Quran, Allah berfirman (An-Nisa ayat 1), yang artinya : Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya2 Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain3, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
Jelaslah bahwa tujuan perkawinan yang telah dimulai oleh Adam dan Hawa ialah untuk memakmurkan bumi raya ini dan untuk membangun suku-suku bangsa serta bangsa. Suku-suku bangsa dan bangsa-bangsa yang terbentuk oleh hasil perkawinan haruslah saling berkenalan, hidup rukun-damai dan berkasih saying seperti Allah tegaskan dalam surat Al-Hujarat ayat 13. Karena suku bangsa tersusun dari keluarga dan bangsa tersusun dari suku-suku bangsa, maka Islam menetapkan bahwa keluarga atau rumah tangga haruslah dibangun di atas dasar mawaddah wa rahmah, cinta-kasih dan kasih sayang seperti yang Allah tegaskan dalam Surat Ar-Rum 21.

Nayatanya bahwa manusia, karena fitrahnya, berhasrat agar nasabnya berlanjut terus. Untuk itu memerlukan anak, cucu dan cicit. Jalan untuk mendapat anak, cucu dan cicit ialah dengan perkawinan seperti yang digariskan Islam. Kecualai sebagai jalan untuk mendapat keturunan, nyatanya sekarang bahwa perkawinan telah berperan aktif dalam usaha pembentukan bangsa dimana tejadinya perkawinan antar suku.

Islam bukan saja membolehkan perkawinan antar suku tetapi juga antar bangsa asal sama-sama beragama Islam. Karena itu, perkawinan juga usaha yang alamiah untuk membentuk umat yaitu UmatIslam.Wallahu’aklam
Indek:

  1. Yang dimaksud oleh Nabi Zakarian dengan mawali ialah orang-orang yang akan mengendalikan dan melanjutkan urusannya sepeninggalnya.Yang dikhawatirkan Nabi Zakaria ialah kalau mereka tidak dapat melaksanakan urusan itu dengan baik, karena tidak seorangpun diantara mereka yang dapat dipercayainva, oleh sebab itu dia meminta dianugerahi seorang anak.
  2. Maksud dari padanya menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.
  3. Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.

Filed under: Sosial , , ,

ArSIp

KataGORi

PERKEMBANGAN BLOG

  • 25,617 dari 2 Feb 2009

YANG LAGI SUKA

My Popularity (by popuri.us)

FLAG COUNTERS

free counters
abc-hijau