Skip to content
Tags

,

WISATA ISLAMI

18 Maret 2009

Aceh sekarang ini menawarkan obyek wisata Islami kepada dunia. Obyek wisata Islami di Aceh memang bukan yang pertama didunia, karena telah banyak negara yang menawarkannya seperti Iran, Saudi Arabia, Irak, dan negara-negara lainnya baik negara Islam maupun bukan. Semua negara ini mempromosikan wisatanya dengan nilai-nilai spiritual Islam. Mereka tidak menyebut secara langsung wisata Islami. Aceh dengan bangga mempersembahkan bahwa Aceh Sebagai Daerah Wisata Islami, hal ini mungkin hanya untuk menarik wisatawan untuk datang ke Aceh, mungkin juga sesuai dengan kondisi masyarakat Aceh yang umumnya beragama Islam.

Wisata Islami yang ditawarkan terfokus pada tiga aspek yaitu Peninggalan Sejarah, Seni-Budaya, dan Adat Istiadat. Peninggalan Sejarah sampai saat ini banyak yang tersedia, baik yang telah dipugar maupun masih asli, dan barang-barang peninggalan juga masih banyak yang tersimpan di mesium Aceh. Untuk Seni-Budaya Aceh masih juga tersedia walaupun banyak yang sudah hilang, misalnya budaya-seni gaseng, saman, rapai uroh, geulayang, dll. Ini hanya ada dalam acara pentas budaya, diadakan setahun sekalai, dalam kehidupan sulit didapat. Karena orang Aceh sekarang ini lebih cenderung kepada budaya luar. Lagu-lagu Aceh mungkin hanya sebagian saja yang menyukainya, demikian juga dengan tari-tarian Aceh yang sekarang berganti dengan budaya luar. Pergaulan bebas yang terjadi di Aceh terutama di kota-kota, wanita-wanita yang telanjang alias pake baju ketat, semuanya tidak mencerminkan Islami. Adat-Istiadat Aceh untuk sekarang ini hanya sebagian yang mau mengamalkannya. Banyak Adat Istiadat yang telah bercampur dengan Adat Istiadat/ budaya lainnya, misalnya untuk perkawinan.

Jika keadaan ini yang kita sajikan untuk sebuah wisata Islami, nampaknya tidak hanya mengecewakan para turis tapi kita sendiri jadi kecewa karena tidak adanya sinkronisasi atas apa yang ditampilkan. Hampir setiap hari di Aceh terjadi perkosaan, hamil di luar nikah, bayi yang dibuang, perampokan, perampasan, ini menunjukkan Aceh tidak identik dengan Islami tetapi lebih tepat dengan sebutan Aceh Daerah Angker. Seorang turis datang ke Aceh dengan tujuan dapat menikmati nuansa islami, tetapi sampai di Aceh mereka tidak menemukan apa yang diharapkan. Ini jelas mengecewakan.

Alangkah baiknya sebelum kita mencanangkan Aceh Daerah Wisata Islami, terlebih dahulu kita mempersiapkan diri untuk kembali kepada jaman dimana kekentalan Islam ada disetiap hati rakyat Aceh, kita hidup dengan nafas Islam, mesjid-mesjid penuh dengan jamaah, menasah/surau setiap malam ada pengajian, wanita-wanita menutup aurat dengan sempurna, setiap azan dikumandangkan maka segala aktifitas dihentikan dan berbondong-bondong ke mesjid, surau, tempat-tempat salat. Di daerah obyek wisata dipisahkan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim seperti di pantai, air terjun, dll. Di tempat belajar dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Jika hal ini kita lakukan maka akan kembalinya marwah Islam bagi rakyat Aceh sehingga apa yang kita tawarkan mungkin bisa jadi kenyataan atau sesuai dengan harapan.

Untuk mengembalikan ini semua butuh waktu, keyakinan dan usaha yang kuat serta dengan keihklasan terutama di tingkat elit Aceh dan seluruh komponen masyarakat, sehingga kita bangga dengan apa yang kita tawarkan kepada dunia. Al-hasil kita bisa menunjukkan kembali bahwa Aceh benar-benar daerah Wisata Islami. Insya Allah

Iklan

From → Aceh

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: