Skip to content
Tags

,

MASYARAKAT KAKI LIMA

15 April 2009

Masyarakat kaki lima hampir habis ditelan satu gelombang kebijaksanaan. Gelombang kebijaksanaan menyeret mereka dalam arus kehidupan pinggiran, Kebijaksanaan pun mengalir, lahir dan sekaligus ‘membunuih’ aspirasi mereka, sehingga penghuni masyarakat kaki lima tidak mampu lagi mengayun pedal becak, menyuguhkan menu belanja di gang-gang kecil atau menjajakan koran-koran di perempatan jalan raya. Mereka adalah segerombolan manusia yang mudah didepak oleh satu sistem kekuasaan, karena sering dianggap membandel.

Tersingkirnya masyarakat kaki lima seringkali disebabkan beberapa alasan  ‘demi pembangunan’. Pembangunan kadang-kadang mengibarkan bendera pemerataan dan kesejahteraan, dengan mengubur kepentingan aspirasi rakyat bawah. Kondisi demikian, secara sengaja dibiarkan larut, tanpa adanya satu jembatan untuk mengantisipasi persoalan tersebut dengan cermat.

Secara faktual, pembangunan tidak bisa disulap begitu saja oleh para ilmuan, ahli teknik atau perencana ekonomi, tetapi harus melalui proses yang menyangkut pendidikan, organisasi dan disiplin dari seluruh penduduk. Anehnya, kerjasama semacam ini diabaikan oleh kalangan birokrat sebagai pelaksana roda pemerintahan.

Masyarakat bawah lahir dan mati berkali-kali. Satu generasi tersingkir dan terkubur, kemudian lahir kembali generasi baru yang mempertegas bendera fraksi masyarakat “kaki lima”. Lapisan masyarakat kaki lima secara tidak sadar, dalam percaturan politik Indonesia, ikut menyumbangkan tenaganya dalam berbagai sektor pembangunan. Akan tetapi, partisipasi yang lahir dari kelompok masyarakat ini, seringkali tidak meninggalkan bekas bagi para penjaga negeri. Inilah susahnya jadi golongan mayoritas tetapi tidak memiliki satu kekuatan yang memadai. Sehingga peran yang telah dientaskan untuk tanah air mereka, hanya membekas pada saat peristiwa berlangsung.

Banyak sekali sample yang bisa dikedepankan dalam persoalan ini. Dalam soal kampanye misalnya, secara matematis kelompok kaki limalah yang menggendor, menyemarakkan dan membikin gegap gempita panggung “teater politik”. Tapi setelah pesta demokrasi usai, mereka jugalah yang menjadi ‘korban’ pertama dari pembunuhan aspirasi politik bawah.

Banyak sekali data yang bisa dimunculkan sebagai bagian dari jumlah penderitaan yang diterima masyarakat lapisan kecil. Mereka ingin berteriak, namun mulut mereka telah lama dibungkam dan lidahnya, hanyalah pelengkap elemen kepala saja, sehingga diam sudah menjadi yang sakral. Merekapun hanya bisa berdoa: “Tuhanku, perlukah aku turut memperebutkan segala macam kekayaan yang Kau anugerahkan? Serta menggantikan posisi para birokrat agar kami berubah?”

 

Iklan

From → Sosial

3 Komentar
  1. jamal permalink

    banyak negara menyumbang dana untuk aceh pasca tsunami untuk pembangunan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat tetapi dana tersebut tidak dipergunakan dengan sebaik-baiknya malah dana tersebut habis tidak tau kemana arahnya, persolannya banyak masyarakat yang masih miskin tidak menikmati dana yang melimpah tersebut untuk diberukan kepada masyarakat miskin agar untuk membangun ekonominya agar menjadi mandiri dan perlu dipertanyakan kemana larinya dolar-dolar tersebut itu? dengan kurangnya perhatian dan tanggung jawab bagi pihak yang berwewenang. maka masih banyak masyarakat yang berdagang luntang lantung diterik matahari alias kaki lima, kalau masih begini keadaannya kapan masyarakat aceh maju……………………????

  2. Allan Ganteng permalink

    Bang Boi…., kekuatan Tulisannya luar biasa asli ng neh ? hahaha..keep posting

  3. Masyarakat Kaki Lima, sebuah istilah baru yang patut dipertimbangkan.
    Dan saya sependapat dengan uraian di atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: