Skip to content

SULIT MENGUCAPKAN KATA “TERIMAKASIH”

12 Mei 2009

Beberapa waktu yang lalu, seorang juru parkir di kantorku ngomel padaku: “udah capek kita bantuin mindah, geser atau atur motornya, minta terimakasih aja ngak, jalan aja, udah panas-panas gini, ngak dihargai sedikitpun, aneh ya bang orang Aceh?”. Jawabku: “memang orang Aceh udah sifatnya demikian, mereka bukan ngak ucapin/minta terimakasih padamu tapi mereka mengucapkan dalam hatinya sehingga bisa berfungsi ganda bahwa ia meminta terimaksih kepada Allah, masih ada yang mau menolongnya serta mendoakan kebaikan atas kamu”. Oh ya…. Makanya jangan heran kalau orang Aceh bersikap begitu. Dan ini juga pernah saya alami pada waktu abis stunami dimana banyak NGO baik lokal maupun asing. Salah seorang pemimpin puncak sebuah NGO lokal, ketika baru tiba di Bandara SIM yang langsung berjumpa dengan orang-orang Aceh baik petugas overlap maupun orang lainnya dan beberapa karyawan di kantornya (yang orang Aceh), ia memperhatikan tingkah laku orang Aceh, sehingga suatu hari ngobrol dengan saya, dan ia ceritakan hal ikwal tentang orang Aceh, salah satu poin katanya: “kenapa orang Aceh sulit mengucapkan terimaksih” abis kita tolongin, beda dengan ditempat saya (Jakarta). Saya jawab dengan jawaban yang sama.

Memang kawan juru parkir ini baru tiba dari tanah kelahirannya yaitu daerah puncak Bogor yang dingin, mencoba bekerja sebagai juru parkir di kantor. Ia heran ketika banyak hal aneh terjadi di Aceh. Kata orang, Aceh dingin tapi nyatanya cukup panas sehingga membuat dia jadi berubah warna dari putih jadi abu-abu hanya dalam jangka waktu 2 bulan aja. Aku geledekin ia “bahwa kalau kamu kembali ke Bogor, pasti orang tuamu ngak akan kenal lagi karena udah hitam sekarang, he he he”. Orang Aceh juga susah di atur katanya, kalau kita suruh parkir rapi, marah-marah atau bertekak aja, ia juga harus banyak sabar. Dan  Aceh sebagai daerah pelaksanaan syariat Islam tapi biasa saja seperti di daerahku juga, wanita pada peke pakaian yang bebas, membungkus aurat, bahkan banyak yang ngak pake jilbab. Aku ke tempat obyek wisata, banyak pasangan melakukan maksiat, sama seperti di Taman Bogor, Ancol, mana syariat Islamnya. Banyak kejadian-kejadian aneh lainnya terjadi, yang tak mungkin saya uraikan semuanya.

Hal ini sulit untuk kita katakan bukan demikian yang terjadi tapi kenyataan di masyarakat memang sudah demikian adanya. Pemerintah dalam rangka pelaksanaan syariat Islam tidak dengan sungguh-sungguh, dianggap zaman orang Aceh sekarang sama dengan zaman Jahiliyah dimana penerapan syariat atau hukum Islam harus dengan cara perlahan-lahan atau tahap demi tahap. Karena jika diterapkan sekaligus takut terjadinya syok atau trauma alias orang Aceh dan luar Aceh jadi takut. Bisakah dianggap demikian? Pertanyaan ini layaknya dijawab oleh pemerintah selaku penaggungjawab pelaksanaan syariat Islam. Jika saya yang menjawab maka sebaiknya penerapan syariat Islam itu harus sekaligus karena hampir semua orang Aceh mengerti tentang hukum Islam, minimal hukum amaliyah. Jadi tidak mungkin kita syok atau trauma karena ini hal yang biasa dilakukan oleh orang Aceh sejak dari nenek moyangnya, dan saya yakin sampai sekarang sudah dapat kita nikmati hasilnya sesuai dengan harapan.

Tapi penerapan yang dilakukan sekarang ini hanya memberikan nuansa syariat Islam bukan realita atau hasil yang dicapai mengambang alias tidak jelas arah tujuannya. Wallahu ‘aklam.

Iklan

From → pengalaman

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: