Skip to content

BAHAYA SEXTING

19 Mei 2009

Sexting atau mengirim foto pribadi lewat ponsel telah menjadi ancaman serius. Sexting telah memakan korban jiwa seorang remaja 18 tahun. Berbagai negara kini gencar melakukan kampanye mengenai bahaya sexting.
Di negara bebas semacam AS, sudah jamak bagi anak remajanya mengirim foto seksi ke pacarnya. Namun kegiatan sexting berupa mengirim foto setengah telanjang dari ponsel itu, diketahui memiliki potensi yang berbahaya.

Foto-foto yang sifatnya pribadi itu bisa dengan cepat menyebar di antara teman sekolah. Bahkan yang lebih memalukan, foto itu jamak diupload ke situs jejaring sosial dan bisa dilihat semua orang.
Pemerintaah AS pun sudah mengeluarkan peringatan tindakan sexting bisa berbuah tuduhan perbuatan kriminal. Anak remaja yang mem-forward foto-foto seperti itu juga bisa dikenai tuduhan.
Di beberapa negara mendistribusikan foto porno anak di bawah 18 tahun adalah tindakan kriminal. Meskipun pihak yang dilanggar merasa tidak dirugikan, tapi mengirim foto seperti itu tetap dianggap melanggar hukum.
Bahkan pemerintah AS juga sudah melakukan tindakan tegas dengan menangkap anak muda yang melakukan sexting. Tindakan sexting itu dikenakan tuduhan pornografi anak-anak. Penangkapan itu mengagetkan orang tua, dan pihak sekolah.

 Penangkapan itu menimbulkan protes karena dianggap meneror anak-anak dengan hukum yang seharusnya untuk melindungi mereka dari penjahat seksual. Selain itu juga menimbulkan pemikiran bagaimana cara melindungi remaja dari fenomena sexting itu?
Sexting bukan masalah di Amerika saja. Sexting juga menjadi masalah di Inggris Raya, New Zealand dan Australia. Pemerintah di New South Wales Australia telah meluncurkan kampanye edukasi setelah banyak gadis usia 13 tahun yang melakukan sexting.
“Kami mendesak orang tua untuk mengingatkan anak-anaknya bahaya dari sexting. Mungkin itu akan jadi percakapan yang sulit, tapi kami kira semua orang tua akan setuju, ini hal penting,” kata Menteri Sosial Linda Burney.
Survei lebih dari 1.000 ABG di AS tahun lalu menemukan, satu dari lima anak usia 13 hingga 19 tahun mengirim foto telanjang atau setengah telanjang dirinya sendiri lewat ponsel atau di internet. Sepertiga anak laki-laki dan seperempat anak perempuan mengaku menyimpan foto telanjang atau setengah telanjang yang sejatinya hanya untuk koleksi pribadi.
Peristiwa yang paling memilukan dari sexting ini menimpa Jessica Logan. Orang tuanya menyebut gadis 18 tahun ini adalah anak yang ceria. Namun hidupnya berubah saat tiga foto telanjangnya yang dikirim ke kekasihnya tiba-tiba berada di tangan ratusan remaja di tempat tinggalnya Cincinnati Ohio.

 Selama berbulan-bulan dia dijuluki sebagai ‘pelacur’, ‘ratu porno’ atau ‘penjaja seks’. Makian juga diposting di halaman MySpace dan Facebook gadis itu. Akibat perilaku yang diterimanya itu, Jessica menjadi introvert serta tidak mau masuk sekolah.
Dia sempat tampil di TV lokal dengan identitas disamarkan. Dia menghimbau agar tidak ada korban lain. Namun yang tidak diyana beberapa bulan kemudian dia diketahui gantung diri di kamar tidurnya.
Orang tuanya, Cynthia dan Albert Logan, kini aktif kampanye untuk memberikan penyadaran bahayanya sexting. Tampaknya perlu mengingat himbauan Cynthia dan Albert Logan agar bisa membedakan perilaku pribadi dan umum dalam menggunakan teknologi baru.

Iklan

From → Internet

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: