Skip to content

MENANTI PEMIMPIN INDONESIA BARU

21 Mei 2009

Tanggal 8 Juli 2009 nanti, bangsa Indonesia akan memilih presiden dan wakil presidennya. Memilih berarti menaruh harapan besar terhadap masa depan bangsa dan negara. Awal baru dari kebangkitan bangsa menuju 5 tahun ke depan. Semakin kompleks persoalan bangsa membutuhkan alternatif solusi jitu dan menjanjikan dari para pemimpin bangsanya. Sudah lazim dalam pemilu janji-janji manis akan fasih ditebarkan kepada masyarakat untuk menarik simpati sebanyak-banyaknya. Ujung-ujungnya supaya mereka dipilih rakyat menjadi pemimpin.

Namun, kita perlu mewaspadai bahwa janji-janji kampanye atau wacana di mulut saja tidak dapat menjawab penderitaan yang selama ini dialami rakyat.Wacana emosional belaka tidak akan mampu mengatasi problematik bangsa ini yang kian kritis. Seperti yang telah terjadi sebelumnya, dalam kurun waktu Indonesia merdeka, enam pergantian kepemimpinan.

Wacana yang menjanjikan ialah yang konsepsional dan memiliki komitmen sejati dari capres dan cawapres untuk diwujudkan demi perubahan sosial ke arah yang lebih baik setelah dipilih nanti. Menjadi pemimpin berarti diamanati karena rakyat meyakini akan mampu mengentaskan bangsa dan negara ini dari keterpurukan atau krisis multidimensi yang kita alami.

Beberapa masalah yang masih mengintai bangsa ini adalah kemiskinan, kesehatan, pengangguran, dekadensi moral, pemerataan pendidikan, semakin bertambahnya utang Negara dan masih sangat banyaklagi. Keadaan ini diperparah oleh krisis global yang melanda jiwa dan raga bangsa Indonesia.
Setiap hari banyak masyarakat yang stres, melakukan tindak kriminal, mencoba bunuh diri, dan sebagainya yang menunjukkan degradasi moral bangsa ini akibat himpitan kemiskinan. Semua itu disebabkan rumitnya persoalan kehidupan mereka, sedangkan mereka tidak sanggup menemukan jalan apa pun di negeri yang konon disebut sebagai ”zamrud khatulistiwa”ini.

Ironisnya, Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam,laut,dan budaya.Seharusnya kekayaan ini dijadikan landasan untuk mengentaskan pemiliknya yaitu rakyat dari belenggu-belenggu kemiskinan.Namun faktanya, kekayaan ini bak fatamorgana. Indonesia terlihat kaya namun ternyata tak mampu membuat rakyatnya sekolah gratis, berobat gratis dengan kualitas baik, kesejahteraan buruh, tapi hanya dinikmati oleh segelintir orang, atas nama rakyat, yaitu para konglomerat yang diberikan berbagai macam fasilitas, dan pemberdayaan kapitalis.

Aset-aset negara dijual oleh para pemimpin bangsa kepada para kapitalis, bahkan sampai pulau-pulau pun tak lepas dari penjualan. Orang-orang asing dengan bebas dan dilindungi hukum negara gencar mengembangkan bisnisnya di negeri ini,sementara pribumi sendiri terus-menerus menanggung derita.

Sampai kapan? Ini merupakan komplain kondisi riil,bukanlah sebuah nasionalisme sempit yang tak akan membawa kita ke mana-mana. Untuk itulah saat ini Indonesia membutuhkan para pemimpin yang memiliki visi keberanian untuk melepaskan diri dan negaranya dari hegemoni pihak luar (kapitalisme).
Tanpa para pemimpin yang bebas dari jeratan pihak luar,mampukah Indonesia mencapai negara kesejahteraan yang adil dan beradab? Jangan cuma bicara. Buktikan bahwa pemimpin bukan sekadar wakil rakyat, tetapi juga benar-benar merakyat dengan semangat pembebasan yang egaliter.
Bebaskan rakyat dari akar rangkaian derita panjangnya. Bebaskan Ibu Pertiwi dari jaring-jaring kapitalisme. Jangan jadikan bangsa ini inlander dan inlander lagi.

Semoga kita bisa mendapatkan pemimpin yang tepat untuk membawa bangsa ini menuju bangsa yang sejahtera. Mari kita pilih dan nantikan bersama.

Iklan

From → Pemimpin

2 Komentar
  1. OK. Terimeng genaseh

  2. ayo sukseskan pemilu pilpres 2009…
    bang kaleuh lon link blog gata! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: