Skip to content
Tags

,

TUJUAN PERKAWINAN

21 Mei 2009

Manusia dalam kehidupannya dilengkapi dengan hawa nafsu. Salah satu hawa nafsunya adalah nafsu syahwat. Untuk melakukan penyalurannya Allah swt menetapkan aturan main yaitu melakukan pernikahan sebagaimana firmanNya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Rum:21).

Dalam ajaran Islam, maksud utama dari pernikahan adalah sebagai ibadah dan juga untuk membangun ikatan keluarga yang langgeng (mitsaqan ghalidzha) yang dipenuhi dengan sinar kedamaian (sakinah), saling cinta (mawaddah), dan saling kasih-sayang (rahmah). Sebuah keluarga yang mempuyai keturunan yang sah yang dapat melanjutkan tongkat estapet sepanjang masa. Pernikahan yang dilakukan secara Islam tentu mendapat rahmat dan hidayah dari Allah swt karena sesuai dengan tuntunannya. Pernikahan juga dapat berarti adanya sebuah perjanjian tertentu antara seorang laki-laki dengan perempuan yang harus dipatuhi antara keduanya, baik hak maupun kewajiban.

Islam melarang keras perzinaan yaitu melakukan penyaluran syahwatnya kepada bukan isterinya (wanita yang dinakahi secara sah menurut Islam) sebagimana yang banyak terjadi di dunia ini. Banyak tempat-tempat prostitusi baik legal (lokalisasi) maupun tidak, yang seharusnya ini jangan terjadi karena dapat merusak iman dan moral manusia. Kita memperlakukan perempuan seenaknya saja, hanya diukur/dihargakan dengan uang semata, pelampiasan untuk bersenang-senang, sehingga perempuan sama dengan hewan.

Apabila para laki-laki yang belum mampu melakukan pernikahan maka dianjurkan untuk berpuasa sebagaimana sabda Nabi saw: “Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah saw bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” Muttafaq Alaihi. Ini anjuran Rasul saw, tidak ada alasan bagi manusia untuk melakukan zina.

Islam juga melarang pergaulan bebas karena ini dapat membawa manusia kepada zina, seperti pacaran (yang sangat membudaya), campur baur di dalam suatu tempat misalnya tempat hiburan (bioskop), konser, dan lain-lain. Ini semua dapat mengundang zina yang dimulai dari zina kecil dan suatu saat menjadi zina besar (hal ini banyak terjadi hampir setiap hari).

Jadi sebaiknya kita menjaga harkat dan martabat pergaulan yang telah digariskan Allah swt dan Nabi Saw sehingga hidup ini menjadi indah serta penuh kedamaian, selalu mendapat rahmat. Jika kita ingin menyalurkan syahwat maka nikahilah wanita-wanita dan jika belum mampu sebaiknya kita berpuasa, sampai kita mampu melakukannya.

Iklan

From → agama

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: