Skip to content

TUKAR NASIB

4 Juni 2009

Kemarin, tumben aku nonton TV yang biasanya jarang sekali nonton kecuali berita dan sport. Pilih-pilih channel, ada acara menarik di salah satu stasiun TV swasta nasional yaitu tukar nasib. Karena pertama kali nonton aku penasaran bagaimana ya acara tukaran nasib? Aku nonton sampai selesai. Ternyata acaranya cukup menarik dan banyak hikmah yang dapat diambil, bahwa tukar nasib yaitu antara si kaya dengan si miskin. Sikaya dari keluarga yang berprofesi dokter dan si miskin dari keluarga tukang jual daun jati.

Mereka saling menukar tempat tinggal, si kaya menempati rumah si miskin dan demikian sebaliknya, dengan beberapa tugas yang harus di isi oleh masing-masing anggota keluarga tersebut. Si miskin betapa senangnya dapat menikmati rumah mewah dengan berbagai fasilitas yang ada, sementara si kaya jadi menderita dengan segala kekurangan di rumah si miskin. Ini cukup menarik karena terjadinya kontradiksi, beda dengan kebiasaannya. Kedua keluarga ini melakukan hal-hal yang telah ditetapkan sebelumnya untuk menggantikan profesi masing-masing. Betapa susahnya si miskin untuk menjadi seorang dokter dan juga isterinya menjadi intruktur senam. Sang dokter kebingungan melihat alat-alat dokter, pasien yang sakit dan lain sebagainya. Isterinya juga bingung untuk mengajari senam yang akhirnya dimarahi oleh peserta senam.

Tapi sikaya tidak banyak kendala yang dihadapainya karena hanya mencari daun jati di hutan untuk di jual dan isterinya sebagai pencuci baju (loundry). Namun pendapatan yang diperoleh tidak mencukupi kebutuhan, mungkin ini yang cukup membuat si kaya menderita karena untuk makan saja tidak cukup, biasanya makan enak-enak, tiba-tiba harus makan pake terasi. Si miskin yang harus ke mall untuk belanja, bingung melihat mall yang begitu besar dengan berbagai fasilitas modern.

Hikmah yang dapat diambil dari cerita ini (walaupun ceritanya tidak detil) adalah:

  1. Kita yang ditakdirkan kaya seharusnya dapat melihat bagaimana penderitaan yang dialami oleh orang-orang miskin sehingga kita menjadi dermawan, suka menolong, dan selalu bersyukur. Mikin kaya seseorang seharusnya ia semakin melihat ke bawah.
  2. Kita yang ditakdirkan kaya tidak memandang orang-orang miskin ini hina, dina, tak berharga (sampah), menjadi beban, karena dengan adanya orang miskin kita menjadi kaya. Allah swt menciptakan kelebihan dan kekurangan bagi sesuatu sebagai anugerahNya.
  3. Kita yang ditakdirkan kaya tidak sombong, angkuh, tamak, rakus, kikir dan sebagainya, karena ini pertanda kita tidak bersyukur.
  4. Kita yang ditakdirkan miskin tidak seharusnya merasa minder, malas bekerja, malas belajar, suka meminta-minta, menyerah pada nasib, sehingga sudah miskin jadi semakin miskin.
  5. Kita yang ditakdirkan miskin seharusnya bersyukur, karena itu rahasia Allah swt untuk melindungi kita dari segala dosa dan kita selalu bertaqwa kepadaNya, bukan sebaliknya menjauhkan diri denganNya, berbuat maksiat dan lainnya.
  6. Kita yang ditakdirkan miskin sebaiknya selalu mempunyai niat dan usaha serta doa untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Berjuang dengan segala kemampuan, belajar dari orang lain, belajar dari kegagalan-kegagalan dan selalu tawakkal kepada Allah swt. Suatu saat akan berubah.
  7. Kita selaku manusia harus selalu menyadari bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini, karena kita lahir tanpa membawa apa-apa, yang kita miliki adalah titipan, semuanya akan binasa.
Iklan

From → opini

3 Komentar
  1. Kepingin mie kepiting Razali…. ya harus ke Aceh Yep…
    Kalau ngak sempat ke Aceh makan aja di Pasar Minggu… kan banyak orang Aceh yang jualan mie, cari aja yang namanya sama… hehehe

  2. Yep permalink

    Acaranya cukup bagus klu menurutku, banyak pelajaran yang dapat diambil, apalagi klu nonton dgn anak2….

    Btw…saya pengen Mie Goreng Kepiting Rajali nih … Bang ?

  3. Memang banyak juga yang pro dan kontra dari acara ini…tapi ya yang penting emang itu, semoga buat semua yang nonton bisa mengambil pelajarannya… 🙂

    http://sendit.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: