Skip to content

FASILITAS UMUM DI ACEH

7 Juni 2009

Fasilitas umum (public) merupakan sarana dan prasarana penunjang aktivitas masyarakat yang harus diadakan pemerintah sehingga roda perekonomian lebih lancar, nyaman dan terkendali.

Di Aceh, pemerintah sejak adanya BRR terus meningkatkan (membangun) sarana dan prasarana umum baik jalan, pasar, pelabuhan, bandara, terminal, taman-taman kota, mesium, sekolah-sekolah, mesjid, tempat rekreasi, dan lain sebagainya.

Namun yang patut disayangkan pembangunan yang memakan biaya miliaran ini tidak dapat bertahan lama karena kualitas sangat buruk. Hampir semua pembangunan yang dilakukan hanya bertahan sampai batas peresmiannya saja, setelah itu akan terjadi kerusakan di sana-sini. Seharusnya tidak semikian karena sarana umum ini tidak dibuat untuk sekali pakai saja seperti panggung acara musabaqah atau arena pameran tetapi terus berlanjut untuk selamanya.

Anda dapat melihat sendiri kualitas pembangunan yang ada di Aceh, misalnya prasarana jalan yang hanya dapat bertahan beberapa bulan saja selanjutnya sudah mulai diperbaiki kembali (ditambal-sulam) bahkan ada yang longsor, demikian juga pasar atau terminal atau bandara, semua sarana umum ini tidak menunjukkan kualitas yang baik sehingga bangunan dapat bertahan lama.

Jika anda ke bandara atau terminal, untuk membuang air saja sangat susah karena MCK semuanya rusak, seharusnya bagian ini perlu perhatian serius karena terkait kebersihan. Banyak yang buang air sembarangan akibat kebelet yang dapat mengundang bau dan kuman penyakit.

Apakah pemerintah tidak punya barometer atau standarisasi dari setiap pembangunan yang dilakukan. Secara umum dimana pun pembangunan punya aturan yang harus ditetapkan terutama kualitasnya. Jika kualitas bagus maka pemerintah tidak perlu memikirkan pembangunan yang sama pada tahun berikutnya sehingga menghemat anggaran, dan dapat dilakukan pembangunan yang lain.

Mungkin pemerintah menyalahkan kontraktor yang melaksanakannya tetapi ini tidak masuk akal karena kontraktor adalah pelaksana bukan penentu. Setiap kontraktor yang dimenangkan dalam tender tentu telah memenuhi syarat dan kualifikasi, bukan sembarangan. Namun pemerintah yang kurang melakukan kontrol di lapangan atau ini disengaja biar pembangunan terus ada. Jika kita membandingkan pembangunan di luar negeri belum pernah ada pembangunan yang sama dalam kurun waktu sama tetapi mereka merelok kembali untuk 30-50 tahun ke depan. Ini tentu sangat jauh beda, pemerintah kita merelok kembali dalam 50-100 hari ke depan, “lage proyek abu nawas”. Masyarakat tahu tetapi tidak punya power untuk melakukan tindakan apapun.

Memang Aceh punya anggaran yang besar setiap tahun pada masa otonomi ini, seharusnya kita sudah mampu mengejar ketertinggalan dari daerah lainnya namun ini masih jauh dari harapan jika banyak proyek abu nawas yang diciptakan. Jadi pembangunan yang dilakukan tidak efektif dan efisien, hanya pemborosan anggaran.

“Hom hai, kiban nyeng mangat neupeget laju, pu neupike teman, duk bak kurusi meuputa nyan ken 5 thon sagai… pajan lom?”

Iklan

From → opini

One Comment
  1. Yep permalink

    Iya Bang, bener sekali, Bandara di Banda Aceh agak kurang diperhatikan tuh dan yang kurang simpatik juga para karyawan maskapai penerbangannya rada-rada sombong klu melayani penumpang tuh…. 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: