Skip to content
Tags

SAATNYA MENYELAMATKAN HUTAN RAWA GAMBUT

14 Juni 2009

Sejumlah organisasi pemerhati lingkungan hidup menyatakan dukungan terhadap usulan hutan desa di Teluk Binjai Kabupaten Pelalawan, Riau, karena hal tersebut dinilai menjadi sebuah kearifan lokal untuk menyelamatkan kawasan hutan rawa gambut Semenanjung Kampar yang masih tersisa.
Koordinator Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), Susanto Kurniawan di Pekanbaru, Jumat, mengatakan keinginan warga Desa Teluk Binjai untuk mengelola hutan rawa gambut Semenanjung Kampar merupakan inisiatif masyarakat yang harus diapresiasi semua pihak.
Menurut dia, pengelolaan hutan desa dinilai sebuah langkah baik dalam upaya nyata menjamin sumber pencaharian warga Teluk Binjai yang mayoritas sebagai petani dan nelayan.
“Hutan yang akan dikelola itu merupakan bagian dari sisa hutan Semenajung Kampar yang masih alami dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Sedangkan saat ini Semenanjung Kampar terancam rusak aktifitas konsesi dari perusahaan bubur kertas dan pembuatan kanal oleh program pemerintah provinsi yang alirannya tembus ke Sungai Kampar,” katanya.
Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Riau, Hariansyah Usman mengatakan, Pemerintah Kabupaten Pelalawan dan Departemen Kehutanan perlu untuk mengakomodir usulan hutan desa.
Hutan desa sangat penting bagi warga karena lahan pertanian yang tersisa di daerah pemukiman semakin sempit. Jika hal itu tidak diakomodir departemen terkait di pemerintah pusat, maka kehidupan masyarakat akan semakin sulit.
“Jika desa mendapat hak pengelolaan, maka warga desa bisa membuat perencanaan bagi keberlangsungan hidup mereka yang lebih baik. Usulan warga ini sesuai dengan Permenhut Nomor 49 Tahun 2008 tentang Hutan Desa,” katanya.
Sementara itu, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, Zulfahmi mengatakan, usulan hutan desa suatu inisiatif yang sangat baik. Organisasi ini yakin bahwa masyarakat sebenarnya mampu melakukan pengelolaan hutan secara lestari, namun selama ini mereka tidak diberi akses untuk mengelola sehingga kebanyakan kantong-kantong kemiskinan berada disekitar kawasan hutan.
“Kami mengharapkan kepada pemerintah agar memberi kesempatan kepada masyarakat Teluk Binjai untuk membuktikan bahwa mereka mampu melakukan pengelolaan hutan secara lestari,” ujarnya.
Sebelumnya, warga Desa Teluk Binjai mengusulkan kepada Pemkab Pelalawan untuk memberikan dukungannya atas hutan desa pada 9 Juni lalu. Desa Teluk Binjai sendiri memiliki luas wilayah 24.116 hektar, di antara hutan Semenanjung Kampar dan Suaka Marga Satwa Kerumutan, dan dibelah Sungai Kampar di bagian tengahnya.
Saat ini untuk mempertahankan kehidupannya, warga memanfaatkan lahan pertanian di sekitar permukiman. Lahan tersebut kini semakin sempit lahan konsesi perusahaan bubur kertas. Sementara hutan desa yang diusulkan 5.000 hektare dan terletak di seberang sungai.

 Sumber: kompas.com

Iklan
Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: