Skip to content
Tags

KEMISKINAN

21 Juni 2009

Kemiskinan ada dimana-mana. Di negara maju, di negara miskin, di desa, di kota. Wajah kemiskinan menjelma dalam berita berita koran, dalam wacana intelektual di seminar-seminar juga dalam puisi. Orang miskin sendiri tak begitu sadar kalau mereka diperbincangkan terus menerus. Nyatanya, yang miskin tetap saja miskin.Nasib mereka tak juga berubah
Atasnama kemiskinan, berbagai program dimunculkan. Beragam jargon diucapkan. Para politisi bicara berapi-api untuk menjaring suara di pemilu atau pilkada. Jangan-jangan kemiskinan itu sengaja dipelihara agar birokrat tetap bisa bikin program bagi-bagi benih unggul, alat pertanian; anak pejabat bisa gratis sekolah lewat program gratis pendidikan. Para bankir akan membuat skema kredit murah untuk bangun rumah keluarga, para peneliti punya obyek untuk diteliti. Para penda’i tidak kehilangan topic ceramah; “kemiskinan dekat pada kekufuran” sehingga harus dibela, tapi dia sendiri ogah bersedekah.

Yang berbicara atasnama kemiskinan semakin kaya dengan mobil dibudiya hingga lima, sedang si miskin tetap saja miskin. Dari tahun ke tahun, nasib mereka menderita dan berkubang airmata. Para penguasa terus mewanti-wanti bahwa kemiskinan dekat dengan kebodohan, dan orang miskin diidentikan orang bodoh. Maka mereka pun terus dibodoh-bodohi. Ternyata kemiskinan memang sengaja dilanggengkan. Semua itu bertujuan membudayakan kemiskinan, sehingga penguasa, penguasa, politisi, dan sikaya bisa terus menikmati kekayaannya. Sungguh, orang-orang semacam inilah yang benar-benar “miskin” karena mengekplotasi kemiskinan akibat kemiskinan moral dan fitrah.
Seperti ditulis Dr. Humam Hamid tentang Pemanasan Global dan Kemiskinan Lokal (Serambi, 23/05/2009), yang membahas dua katagori kemiskinan, yaitu kemiskinan “sementara” dan “kronis”. Kemiskinan sementara juga boleh disebut kemiskinan struktural terkait dengan ketidakadilan, misal, pembayaran upah yang tak sebanding dan ekploitasi, pengrusakan lingkungan sehingga orang kehilangan modal alam untuk hidup, termasuk pemungutan yang memberatkan dan memeras rakyat. Ketika keadilan tumbuh, maka mereka bisa berdaya lagi.Kemiskinan “kronis” terjadi akibat faktor-faktor biologis, psikologis dan sosial (malas, kurang trampil, kurang kemampuan intelektual, lemah fisik dan lainnya yang membuat orang sulit melakukan usaha atau bekerja. Sehingga orang menjadi miskin karena terperangkap kemiskinan.
Sungguh, kemiskinan menjadi permanen ketika kebijakan structural itu buruk. Misalnya, ketika upaya mengurangi kemiskinan lewat jalur pendidikan seperti saran teori John Dewey, sehingga semua pemerintahan di dunia ini melaksanakan program pendidikan untuk mengentaskan masyarakat dari lembah kemiskinan. Dan orang orang miskin menyadari hal itu. Bahwa untuk lepas dari belenggu kemiskinan harus menyekolahkan anak-anak mereka. Tapi faktanya, pendidikan kita telah memaksa orang miskin untuk menghentikan pendidikan anak.mereka, karena kendala begitu kukuh untuk bisa diterobos. Mulai kenaikan SPP, undang-undang BHP, hingga program beasiswa prestasi dan sekolah gratis. Sebab yang menikmati justru anak-anak pejabat dan anak orang kaya. Sedang anak-anak orang miskin, jangankan untuk berprestasi, makan sehari tiga kali sudah tidak pasti. Artinya, orang miskin dilarang sekolah. Dan inilah borok yang selama ini ditutupi sendiri oleh para penguasa seperti kondisi kemiskinan rakyat. Hasilnya benar-benar mengagetkan, dimana kemiskinan moral telah menjadi ijazah bagi kejahatan selama ini

Sumber: serambinews.com

Iklan

From → Info

4 Komentar
  1. Benar ibu Her, namun realitanya ya beginilah…:)

  2. hj lien herlina SE permalink

    isue setiap kepala daerah ketika pilkada maupun menjabat adalah pendidikan gratis,pelay kesehatan gratis,bantuan sosial dsb dsb padahal ,emang kewajiban pemimpin paham amanat pembukaan undang-undang dasar diantaranya mensejahterakan masyarakat dan menginplementasikannya, dia punya kekuasaan ngolah uang rakyat ya harus mengembalikannya dalam bentuk pelayanan publik berupa pelayanan dasar ya pendidikan ya kesehatan ya kebutuhan ekonomi lainnya , insya alloh kemiskinan dapat ditekan.

  3. Seharusnya pemerintah harus berusaha agar kemiskinan dapat diperkecil, mmg tak mungkin dihapuskan karena melanggar ketentuan Allah SWT.
    Program mengentaskan kemiskinan dapat dilakukan dengan serius, misalnya pendidikan gratis, pembentukan lapangan kerja, pemberdayaan ekonomi sehingga kita yang miskin dapat menikmati hasil pembangunan, bukan hanya sebagai penonton… 🙂

  4. pak, spp gratis dari sd-smp-sma. yang mahal mah bayaran komitenya bisa belasan kali lipat spp.
    mana lagi ga boleh ga pake seragam kalau ke sekolah, jadi seragam kudu dibeli. buku harus, krn buku gratis jumlahnya terbatas dan ga boleh diutak-atik meski pake pensil. jadi yah terpaksa beli sendiri.

    saya setuju, kemiskinan moral menjadi salah satu ‘aset’ terburuk bangsa ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: