Skip to content

PENGEMIS DI ACEH

4 Juli 2009

Beberapa waktu lalu kami melakukan perjalanan dari Banda Aceh menuju kota Lokseumawe yang jaraknya hampir 280 km. Tiba di kota Lhokseumawe pukul 10 malam dan nginap. Keesokan harinya kami jalan-jalan mengelilingi kota untuk suatu keperluan, tiba pada salah satu lampu stop, aku menoleh ke kanan… aku kaget ketika melihat seorang pengemis mangkal. Biasanya ia mangkal di Simpang Lima Banda Aceh, kenapa ada di sini? Kawan–kawan juga mengiyakan, salah seorang dari kami dengan celoteh humornya mengatakan, bahwa “sang pengemis sudah dimutasi dari Kota Banda Aceh ke Kota Lhokseumawe, mungkin lahan di Banda Aceh sudah kurang basah”. Kami semua ketawa…

Saya membayangkan bahwa profesi pengemis juga sangat tergantung kepada banyaknya pendapatan yang ia peroleh pada suatu daerah tertentu. Sang pengemis tadi mungkin pendapatannya di Simpang Lima sudah menurun drastis akibat semua orang sudah tahu dan bosan memberi sedekah atau juga terkena himbauan pemerintah kota bahwa dilarang memberi sedekah kepada pengemis, jika dilanggar… sehingga harus pindah tempat ke Lhokseumawe, tentu dengan suasana kota baru, orang-orang baru dan bebas dari himbauan pemko, sesuai harapan pendapatannya akan meningkat lagi.

Pengemis di Aceh terdapat hampir di setiap tempat baik di Ibu Kota NAD maupun di kota/kabupaten yang diperkirakan mencapai 1000 orang. Di kota Banda Aceh sendiri masih sangat banyak para pengemis berkeliaran setiap harinya, terutama mangkal di lampu stop, tempat-tempat keramaian, rumah makan, dan lain-lain. Pernah suatu waktu Pemko merazia para pengemis dan dikabarkan mereka akan di training oleh Departemen Sosial untuk mengubah nasib -menjadi manusia yang mau bekerja, jangan cuma hanya bisa ngemis saja- tapi hanya sebuah wacana karena beberapa hari kemudian mereka kembali muncul pada posisi semula walaupun berkurang dari sebelumnya dan hanya resuffle tempat antar pengemis. J

Seharusnya Pemda Aceh berkomitmen dengan tulus dan iklas membantu para pengemis untuk menjadi manusia yang mampu bekerja dan berkarya untuk mendapatkan pendapatan tanpa harus mengemis karena mereka punya keluarga dan anak-anak. “Saya melihat mereka umumnya ditemani oleh anak-anak yang masih dibawah umur, pada masanya mereka sekolah tetapi harus ikut mengemis. Masa depan mereka pasti terancam”. Mereka diajak serius dengan berbagai cara sehingga berkeinginan untuk mengubah nasib. Pendidikan dan pengajaran (keterampilan) yang diberikan harus disertakan modal kerja dan kontrol dari Pemda (dinas terkait) agar efektif. Kita mengakui sulitnya merubah tradisi dan prilaku pengemis, namun dengan komitmen mereka akan mau mengikuti program-program yang ditawarkan Pemda. Bukan dengan menangkap dan memberikan pengarahan, lalu dilepaskan. Mungkin mereka sudah jenuh dan bosan dengan arahan tanpa kerja atau tindakan. Sekali lagi Pemda harus serius…

Jika para pengemis dapat sukses menjadi manusia yang bekerja dan berkarya akan membawa Aceh kepada suatu pencerahan atas program pengentasan kemiskinan dan tentu Aceh bebas dari pengemis. Semoga

Iklan

From → Aceh

5 Komentar
  1. faktor pengemis di aceh bukanlah sekedar malas semata orangnya,
    melainkan pemerintah saja yang tidak menghiraukan mereka ..
    caba lah pemerintah kasih penyuluhan N lapangan kerja kepada mereka .
    insya allah pasti di nanggroe aceh tercinta ini tak kan ada tu gelandangan-pengemis(GEpeng) lagi !!

  2. Nyekeuh, dak meudeh kon beujeumot kerija bek gadoh meudaheh bak bineh jalan, ngen abe, asap moto, kiban lagenyan… 🙂

  3. that male takalon peukateun ureueng Aceh lawet nyoe…
    ka beuo-beuo dum…
    tacinut yang pah…

  4. Justru orang malas di didik supaya mau bekerja. Islam sudah mengajarkan bahwa umatnya tidak boleh malas dan berpangku tangan, semua terserah taqdir. Jika ini yang terjadi maka tidak akan maju dan demikian juga dengan kemiskinan yang salah satu itemnya ya pengemis tadi. “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di atas”.

  5. Itu jadi PR nya pemerintah. Mestinya para pengemis bisa mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang layak.
    Tapi kalau emang dasarnya orangnya yang malas trus gimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: