Skip to content
Tags

,

BIOSKOP DI ACEH, Layakkah?

18 Juli 2009

Propinsi Aceh yang menerapkan syariat Islam dan merupakan satu-satunya propinsi di Indonesia yang menjalankannya maka banyak acara hiburan yang tidak dapat tampil jika melanggar qanun. Saya menyorot tentang perfilman layar lebar (celuloid). Untuk perfilman di atur dengan Qanun no. 22 tahun 2002. Dalam qanun disebutkan boleh saja adanya pembuatan, peredaran dan pemutaran film di Aceh, baik dalam bentuk layar lebar, vidio, VCD, dll. Namun harus sesuai dengan aturan yang ditetapkan.

Bila kita melihat betapa antusiasnya masyarakat yang ingin menyaksikan pemutaran film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) yang disponsori oleh PT. TELKOMSEL beberapa waktu lalu dan dilangsungkan di Gedung Cut Nyak Dhien/Gedung Sosial Kota Banda Aceh, saya terbayang dan bertanya mengapa tidak ada bioskop di Aceh. Pemutaran KCB yang berlangsung dengan kesederhanaan dan keterbatasan karena bukan di bioskop, tidak memberikan kenyamanan dan kepuasan seperti yang diharapkan. Bahkan diselingi dengan mati lampu yang menyebabkan banyak penonton kecewa. Ini kita rasakan bahwa Aceh sangat gersang dan tandus serta kurangnya perhatian di dunia perfilman.

Seharusnya di Aceh layak adanya bioskop (Bioskop merupakan tempat khusus yang kegiatannya memutar film) karena dengan pemutaran film-film yang berkualitas dan bernuansa Islami akan memberikan informasi penting kepada masyarakat, mendidik masyarakata, wawasan masyarakat akan terbuka, di samping  seni dan budaya. Memang bioskop berkonotasi miris tapi kita punya qanun yang mengaturnya sehingga norma-norma dapat terjaga dan tetap lestari asalkan pihak Pemda bersungguh-sungguh melaksanakannya. Di negara Islam pada belahan bumi lainnya seperti Iran, Al-Jazair, Qatar, dll. Mereka memiliki bioskop sehingga para pencinta perfilman tidak kehilangan karya dan ide-idenya untuk ditampilkan dalam bentuk film.

Banyak para pecinta perfilman di Aceh yang tidak dapat menyalurkan inspirasi untuk menciptakan karyanya dalam bentuk layar lebar, akibat keterbatasan faktor pendukung, ya salah satunya tempat pemutaran (bioskop).

Saya mengharapkan kepada pihak Pemda supaya dapat menggalang para pengusaha agar mendirikan bioskop minimal di Ibu Kota Propinsi agar kita tidak perlu jauh-jauh ke Medan atau propinsi lain di Indonesia untuk menyaksikan sebuah tayangan film atau menanti adanya pertunjukan khusus seperti KCB dan nantinya masyarakat Aceh tidak lagi ketinggalan informasi tentang film. Semoga.

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah tautan Pak Lukman Saat yang tampil di Facebook beberapa waktu lalu dengan judul Saleum-KCB.

Iklan

From → opini

5 Komentar
  1. Yep permalink

    Wah…ngak ada bioskop sekarang ya Bang ?
    Dulu setau aku ada lho, yang disebelahnya ada kolam renang itu, tapi aku lupa namanya 🙂

  2. Mudah-mudahan wacana yang anda sampaikan dapat memberikan masukan bagi Pemda kita jika memang mereka berniat untuk ini….:)

  3. ichsan permalink

    saya punya 2 versi komentar mengenai LAYAKKAN BIOSKOP DIACEH :

    ≥ LAYAK>>> kalau suasana didalam bioskop bisa dikontrol, misalnya kursi tempat duduk terpisah antara laki2 dengan perempuan (kecuali suami istri) , film yang diputar tidak mengarah ke pornografi. kalau hal hal yang seperti itu sudah dapat dikontrol, saya setuju ada bioskop di aceh. karena masyarakat kita saat ini sangat haus akan hiburan, tapi harus dalam kerangka islamiah….

    not : manfaatkan bioskop untuk hal2 yang positif….

    ≥ TIDAK LAYAK>>> Saya ragu akan kinerja para pengusaha bioskop, mereka tidak mampu mengontrol para konsumen. kenapa saya bilang demikian, masyarakat kita umumnya susah dinasehati. dan takutnya pihak pengusaha bioskop dalam mengaruk uang, mereka akan menghalalkan segala cara untuk menarik konsumen.

  4. Masalah moral sangat tergantung kepada manusianya, individu-keluarga-pemerintah, yang utama adalah iman dan ketakwaan. Jika ini yang tampil pada setiap diri maka kehidupan di Aceh tidak begini jadinya. Sekarang ini kita kan apatis dengan syariat Islam…:-D

  5. Bioskop tidak layak di ACEH yang menyarankan Bioskop di ACEH layak masuk neraka, jangan karena satu film yang Islami anda berfikiran harus ada bioskop di Aceh, yang tanpa bioskop saja sudah sebegitu rusaknya moral bangsa Aceh, apakah harus ditambah lagi dengan adanya bioskop. Seharusnya kita memikirkan agama dan moral orang Aceh bukannya bioskop.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: