Skip to content

MEMPERINGATI ISRA’ dan MI’RAJ

18 Juli 2009

Pada tanggal 27 Rakjab 1430 H atau tepatnya tanggal 20 Juli 2009 kita akan memperingati kembali suatu peristiwa bersejarah bagi umat Islam, khususnya untuk baginda kita Nabi Besar Muhammad SAW yaitu peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Peristiwa ini adalah suatu perjalanan yang dilakukan oleh Nabi saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu menjelajahi tujuh lapis langit dan sampai kepada Sidratul Muntaha bahkan ke Mustawa untuk menjumpai Allah swt yang ditemani Malaikat Jibrail dengan mengenderai kenderaan buraq.

Perjalanan yang dilakukan oleh Nabi saw adalah untuk mendapatkan perintah shalat bagi umat Islam seperti yang kita laksanakan setiap lima waktu sehari semalam sekarang ini. Sebelum shalat menjadi lima waktu, perintah shalat yang diberikan pertama kali oleh Allah swt adalah lima puluh waktu. Nabi saw merasa berat oleh umatnya untuk dilaksanakan sehingga Nabi saw bermohon kepada Allah swt untuk dikurangi, dengan beberapa kali permohonan sehingga menjadi lima waktu saja. Dengan lima waktu saja masih banyak umat Islam yang tidak melaksanakannya.

Dengan peristiwa isra’ dan mi’raj ini kita semestinya sadar bahwa betapa pentingnya shalat yang telah diperintahkan Allah swt dan akan menjadi tolok ukur perhitungan amal (hisab) nantinya di akhirat. Jika shalat kita baik maka akan diperhitungkan Allah swt, demikian sebaliknya jika shalat tidak baik atau tidak dilaksanakan maka akan terjadinya pending perhitungan amal atau hisab.

Dalam perjalanan Israk Mikraj, pelbagai keadaan atau kejadian diperlihatkan kepada baginda. Semuanya menggambarkan fenomena yang pasti akan terjadi keatas umatnya kelak. Segala gambaran yang sebenarnya menjadi teladan kepada kita semua.
Hadis riwayat Bukhari dan Muslim menceritakan hal ini, diantaranya :
Nabi s.a.w. menemui suatu kaum yang bercocok tanam dan menuai hasilnya pada hari yang sama . Ini menggambarkan mereka yang berjihad pada jalan Allah, dipergandakan suatu kebajikan hingga 700 kali lipat.
Nabi s.a.w. melihat suatu kaum yang menghempapkan kepala mereka dengan batu besar sehingga kepala pecah dan ia pulih seperti sediakala. Mereka melakukan tanpa rasa penat. Inilah gambaran orang didunia malas dan berat kepalanya untuk menunaikan solat.
Ada kaum yang perut besar seperti rumah. Setiap kali mereka coba bangun, mereka terjatuh. Ini adalah gambaran orang yang memakan riba. Ada kaum yang mengunting-guntingkan lidahnya, dan setiap kali lidahnya putus, kembali pulih semula. Ini gambaran ahli pidato yang membawa fitnah. Dan lain-lain.

Untuk lebih mengenang dan mengimplementasikan peristiwa ini dalam kehidupan kita maka dapat diambil beberapa pelajaran antaranya:

1. Kuasa Allah swt adalah tidak terbatas dan Dia boleh melakukan apa saja yang dikehendaki oleh-Nya, seperti membawa Rasulullah saw dari kota Mekah ke Baitul Maqdis dan dibawa mengadap ke hadrat-Nya di Sidratul Muntaha di dalam jangka waktu yang begitu singkat, yaitu satu malam. Ini karena apabila Rasulullah saw. menceritakan tentang peristiwa kepada masayarakat umum di Mekah, mereka mentertawakan Rasulullah. Hanya Saidina Abu Bakar As-Siddiq mempercayai kata-kata Rasulullah, dan beliau diberi gelaran “As-Siddiq” yang bermaksud “orang yang benar”.
2. Sebelum Rasulullah saw di-isra’-kan, baginda telah menjalani suatu “pembedahan” untuk membersihkan hati, dan dimasukkan unsur rohani, iman dan hikmat. Ini menunjukkan kepada kita bahwa di dalam peringkat pertama untuk bertemu Allah swt, kita perlu membersihkan diri dan jiwa kita daripada pelbagai sifat mazmummah yang tidak baik dan menanamkan sifat mahmudah yang baik. Dengan jiwa yang tenang, penuh keimanan dan ketakwaan akan dibawa bertemu dan mengadap Allah swt.
3. Berbagai peristiwa yang dilihat dan dialami oleh Rasulullah saw. semasa di dalam Isra’ bersama malaikat Jibrail memberikan gambaran menyeluruh perihal umatnya di bumi ini dalam menjalani kehidupan sebagai khalifah Allah. Ada yang melakukan kebajikan, ada yang melakukan kemaksiatan dan mereka menerima balasan yang setimpal dengan apa yang telah mereka kerjakan daripada Allah swt.
4. Allah swt juga telah menunjukkan kepada Rasulullah saw dan umatnya bahwa iman dan akidah yang teguh merupakan asas kepada sifat keislaman yang sejati dan akan diberi balasan baik oleh-Nya. Ini berlaku kepada tukang sikat Firaun, Mashitah sekeluarga. Walaupun dianiaya dan dibunuh oleh mereka yang kufur, Allah swt menganggap pengorbanan itu sebagai suatu syuhada atau jihad kerana mempertahankan agama Allah.
5. Orang yang beramal soleh dan berjihad di jalan Allah akan diberi balasan berlipat ganda seperti satu kaum yang menanam dan menuai hasil tanaman mereka yang keluar berulang-ulang kali.
6. Rasulullah telah memilih minuman untuk baginda yaitu susu berbanding arak yang ditawarkan oleh Jibrail as. Ini jelas menunjukkan bahwa susu merupakan minuman yang berkhasiat dan arak pula minuman yang tidak disukai oleh baginda dan juga Allah swt. kerana ia memabukkan dan akan menyesatkan umat Islam daripada mengingati Allah swt.
7. Beberapa tempat yang telah disinggahi oleh Rasulullah untuk mengerjakan shalat seperti Madinah, Bukit Tursina dan Masjidil Aqsa adalah tempat yang terpilih dan mulia. Maka jika kita berkesempatan untuk berkunjung ke sana, adalah sunat untuk mengerjakan shalat di tempat-tempat tersebut.
8. Allah swt adalah Maha Pengampun lagi Maha Mendengar. Bermula daripada perintah agar umat Islam diwajibkan mengerjakan solat 50 kali sehari semalam, atas permohonan Rasulullah S.A.W. sebagai kekasih-Nya berulang kali (sebanyak 9 kali), Allah swt telah mengurangkannya kepada 5 kali saja sehari semalam seperti yang kita kerjakan hingga hari ini.
9. Surah Al-Fatihah dan Ayat Kursi merupakan ayat-ayat suci Al-Quran yang banyak keberkatannya sekiranya dibaca dan diamalkan di dalam kehidupan sehari-hari. Ini kerana surah ini dinyatakan dengan jelas oleh Allah swt kepada Rasulullah saw semasa mengadap-Nya.
Demikian sedikit gambaran peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang akan kita peringati nantinya dan jangan hanya sekadar sebuah kisah sejarah yang diceritakan kembali setiap kali 27 Rejab. Lebih dari itu untuk kita menghayati pengajaran di sebalik peristiwa tersebut bagi meneladani perkara yang baik dan menjauhi perkara yang tidak baik. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang memperlihatkan pelbagai kejadian aneh yang penuh pengajaran seharusnya memberi keinsafan kepada kita agar sentiasa mengingati Allah swt dan takut kepada kekuasaan-Nya.

Iklan

From → agama

7 Komentar
  1. Insya Allah ibu siti…:)

  2. siti nur aisyah bt hamdan permalink

    moga dgn blog nie,cerita sirah islam dpt diketahui semua gologn masyarakat

  3. ocha permalink

    maz, seringkali aku brwsing di internet kok hukum memperingati hari besar islam=bid’ah…ada gag dalil nash baik ayat ataupun hadist yang membolehkan kita merayakan hal tersebut??cz selama ini juga aku ngerayaind???jawab secepatnya ya!! thx

  4. Terimakasih atas kunjungannya Yep.
    Memang dulu ada bioskop Gajah, Merpati, n lain2, skrg udah g ada lagi.

  5. Yep permalink

    Terima kasih untuk postingannya Bang, jadi menambah ilmu pengetahuan saya tentang Isra’ dan Mi’raj 🙂

  6. Tamaddun…:)

  7. Menurut saya kita harus interospekdi diri, untuk lebih merealisasi lagi perintah tersebutn . . .
    Semoga !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: