Skip to content

PEDIHNYA AKU SAAT ITU

9 Agustus 2009

Aku punya seorang teman yang akrab dan beberapa waktu lalu (sekitar tahun 2000) ia ingin sekali mengunjungi kampung halamanku di Kecamatan Samudera Pasee, Aceh Utara. Kami di Banda Aceh selalu sering berdua seperti saudara. Aku bilang padanya bahwa bila kamu mau ke kampungku boleh saja tapi kamu harus punya uang karena aku tidak punya uang. Di kampung aku hidup dengan bekerja sebagai buruh kasar dan uangnya pun tidak jelas datangnya. Jangankan untuk bersenang-senang buat hidup sehari-hari saja susah, untung banyak tetangga yang mau membantu. Aku hidup gali lobang tutup lobang. Ia menjawab oke saja (rupanya diapun ngak punya banyak uang, aku ngak tahu), yang penting aku harus ke sana karena sangat ingin melihat Aceh Utara atau Kota Lhokseumawe.

Lalu kami bersama menuju kampung halamanku dengan memakai jasa bus kurnia dengan harga tiket 25.000 rupiah per orang. Kami berangkat tengah malam dan tiba subuh sehingga pagi harinya bisa jalan-jalan. Pada hari itu, siangnya kami menuju kota lhokseumawe yang jaraknya 15 km dari kampungku. Kebetulan aku punya saudara sepupu di lhokseumawe dan kami berharap dapat uang dari dia. Tapi apa yang terjadi, kami tidak mendapatkannya karena orangnya juga rada pelit dikit. Kami mau minta ngak ada yang berani, hanya berharap saja, namun Allah swt tidak membisik kasih sayang pada hatinya, jadi gagal.

Kami keliling kota Lhokseumawe dengan jalan kaki saja, capek juga ya? Tapi karena ngak punya uang untuk memakai jasa becak, terpaksa jalan kaki. Hari menjelang senja dan kami kembali ke kampung dan katanya ia puas dan senang juga dengan suasana kota Lhokseumawe. Bila suatu saat ia punya waktu dan uang akan kembali ke kota ini.

Tiba di kampung, karena sama-sama ngak punya uang, maka buat makan malam kami hanya memasak nasi dan lauknya indomie serta telor… aku merasa sedih karena ada tamu di rumahku tapi aku tidak dapat melayaninya dengan baik, seharusnya aku bisa melayaninya 3 hari sesuai perintah. Tapi lagi-lagi aku tak punya uang… maafkan aku kawan. Hidup miskin uang memang susah, namun aku hanya kaya hati sebagai anugerahNya, aku masih bisa bersyukur walaupun dengan keadaan demikian.

Ia menginap dua malam saja karena keterbatasan waktu dan uang. Untuk ongkos pulangnya terpaksa kami harus hutang dulu sama tukang loket bus kurnia di Lhokseumawe, sampai di Banda Aceh katanya ia akan membayar. Tukang loket rupanya baik hati dan ia bisa menuju kota Banda Aceh kembali dengan selamat. Terimakasih pak tukang loket (aku ngak tahu namanya) semoga Allah swt membalas jasa baikmu melebihi ini semua. Insya Allah

Aku sekarang teringat masa lalu dimana kepedihan hidup yang selalu aku alami karena aku bukan orang kaya alias miskin. Kerjaku tidak ada yang tetap, apakah buruh kasar atau apa saja yang penting halal lagi baik. Alangkah senangnya kehidupan orang-orang berada dengan punya uang banyak sehingga semua impiannya dapat dicapai dan dinikmati. Aku tidak demikian, selalu impian itu terkubur dengan rapi karena tidak pernah kudapati dan kunikmati. Aku memang kaya hati, tapi kaya hati tidak mampu mencapai tujuan yang diinginkan, ia hanya dapat membimbing kita agar tidak kecewa atau mampu bersyukur karena orang miskin diharapkan selalu melihat ke bawah dan orang kaya harus selalu melihat ke atas dalam hidup ini. Bila orang miskin melihat ke atas terus, maka ia akan putus asa sehingga berakibat fatal.

Semoga tulisan ini dapat memberi motivasi bagiku agar selalu bersyukur dan melihat ke bawah dalam setiap urusan.

Iklan

From → pengalaman

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: