Skip to content
Tags

BERSAMA CINTA KITA BERUBAH

17 Agustus 2009

Cinta dan kasih sayang adalah ruh kehidupan dan pilar keselamatan bagi umat manusia. Apabila kekuatan gravitasi dapat menahan bumi dan bintang-bintang dari pertumbukan satu sama lain, sehingga terselamatkan dari kehancuran, terbakar atau berguguran maka perasaan cinta dan kasih sayang menjadi tali perekat antara sesama manusia, sehingga tidak terjadi pertumbukan antara sesamanya yang dapat menghantarkan pada kehancuran. Sehingga dikatakan “Seandainya cinta dan kasih sayang telah mempengaruhi dalam relung kehidupan, niscaya manusia tiada lagi membutuhkan keadilan dan undang-undang.”

Mengapa ? Jika kita simak hamparan alam semesta, sesungguhnya Allah menciptakan semuanya dalam naungan keseimbangan cinta dan kasih sayangnya. Sehingga tiada satupun ciptaan Allah yang sia-sia. “Tidakkah engkau lihat dalam ciptaan Tuhan yang pemurah itu serba teratur”. (Qs. Al Mulk : 3). Bila kita perhatikan dan renungkan dengan seksama, terciptanya manusiapun adalah hasil pertautan cinta dan kasih sayang dua insan yang memadu cinta. (Qs. An-Nisa’: 1)

Cinta adalah satu-satunya mutiara yang dapat memberikan keamanan, ketentraman dan kedamaian. Kita mencintai segala sesuatu dan segenap insan, bahkan mencintai kesulitan, rintangan dan tribulasi kehidupan yang menghadang di sekitar kita sebagaimana kita mencintai nikmat dan kesenangan. Karena rintangan dapat membangunkan semangat dan melahirkan kekuatan untuk menghadapi tantangan, menggerakkan dan membangkitkan jiwa untuk berbuat dan bertindak. Maka dengan cintalah seharusnya manusia bertindak, cinta dalam arti yang hakiki. Kenikmatan dan penderitaan muncul akibat mendapatkan yang cocok dan yang meleset.

Cinta, kata Syaikh Jasim Badr al Muthawwi’a adalah jalan pintas menuju perubahan. Betapa banyak jiwa yang berubah menjadi baik disebabkan oleh cinta. Berapa banyak akal yang terbenahi dikarenakan oleh cinta? Akan tetapi betapa tidak sedikit jiwa yang linglung, limbung dan hilang keseimbangan juga “gara-gara” cinta? Dan betapa banyak lagi akal yang gila karena terserang virus cinta ?

Al Ash bin Rabi’a, suami Zainab binti Muhammad saw, lari dari kota Mekkah karena lari dari Islam. Akhirnya Zainab menulis surat padanya karena dorongan rasa cinta, dan kembalilah Al Ash memenuhi panggilan cinta dan masuk Islam.

Thufail bin Umar Ad-Dausi, ketika telah memeluk Islam, istrinya pun datang menghampiri. Namun ia melarangnya seraya berkata, “Engkau telah menjadi haram bagiku! Mengapa? Tanya istrinya heran. Aku telah memeluk Islam, jawabnya. Maka sang istri pun berkata, Aku telah menjadi bagian dari dirimu dan engkau telah menjadi bagian dari diriku. Agamamu adalah agamaku, maka akupun memeluk Islam. Itulah pernyataan keisalaman secara sadar dan murni karena dorongan cinta.

Itulah tanda bukti cinta bahwa ia tunduk kepada orang yang dicinta dan mendahulukannya daripada kepentingan sendiri. Namun menurut Ibnu Qoyyim cinta seseorang terhadap orang lain sejatinya untuk dirinya sendiri. Yakni meraup nikmat cinta untuk dirinya.

Bila kita cinta Allah, maka Allah pun akan mencintai kita dan melimpahkan rahmat serta ridha-Nya. Bila kita cinta Rosulullah saw tentu kita berharap mendapatkan syafaatnya di hari kiamat. Maka bila Anda cinta diri anda, selamatkan diri Anda dan berubahlah sejak sekarang. Semoga!

Iklan

From → Info

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: