Skip to content

MALU DAN KEMALUAN

5 November 2009

Aku pemalu, wanita itu pemalu, dia malu padanya… Ini sepenggal kata-kata yang lazim kita dapatkan baik dalam tulisan atau kala berbicara. Kata ini sungguh besar makna yang dikandungnya bila ia melekat pada manusia. Demikian juga dengan kata kemaluan akan sangat berarti bila sesuai dengan fungsinya. Dua kata ini saling berkait walaupun beda artinya. Malu cenderung kepada sifat sedangkan kemaluan berupa alat. Saya ingin menguraikan sedikit fenomena yang terkait dengan dua kata ini dalam penjabaran bagi kehidupan manusia, bukan sebagai ulasan bahasa.

Manusia diciptakan dengan bentuk yang paling sempurna karena mempunyai akal serta diberikan sifat-sifat tertentu agar mampu menjalankan fungsinya dengan baik dan benar di muka bumi. Manusia diberi kemauan dan hasrat agar dapat terus mempertahankan diri sepanjang masa dan tidak akan habisnya sampai dunia kiamat. Salah satu sifat bagi manusia adalah rasa malu dan salah satu untuk menjalankan hasratnya adalah kemaluan.

Waktu saya masih kecil, saya merasakan kehidupan sangat indah dan nyaman karena semua manusia selalu menjungjung tinggi sifat malu. Manusia waktu itu, bila wanita tentu berpakaian dengan menutup seluruh tubuhnya serta memakai jilbab sehingga menghindari pandangan mata, demikian juga dengan kaum laki-laki kebanyakan mereka memakai kain sarung atau celana yang longgar serta berpeci. Acuan ini membuat malu dan kemaluan terjaga. Mereka sangat taat pada aturan agama Islam yang dianutnya, sesuai dengan sabda Nabi bahwa “malu itu sebagian dari iman” (HR. Bukhari). Hampir tidak pernah saya dapatkan wanita maupun pria yang tidak menutup auratnya dengan sempurna.

Untuk saat ini kata malu mungkin sudah tidak lagi melekat pada kebanyakan umat muslim, kita tetap beriman dengan Islam tetapi tidak pernah mengikuti aturannya. Kita seenaknya saja hidup tanpa aturan, tanpa peduli pada kaedah agama. Agama kita jadikan sebagai bentuk ritual saja bukan alat pembimbing bagi kehidupan untuk mendapatkan kesejahteraan abadi. Agama hanya sebuah pelarian bila terjadinya sesuatu yang tidak sesuai hawa nafsu, untuk pembuka dan penutup acara seremonial atau hanya untuk memohon berkah saja.

Kita dengan senangnya melakukan korupsi, penyelewengan dan memanfaatkan fasilitas tertentu tanpa merasa malu pada orang-orang yang berhak menerimanya. Mereka menjerit dan selalu bermohon kepada kita agar memberikan haknya sehingga keadilan dapat dicapai. Keadilan selalu kita kobarkan tetapi tidak pernah kita laksanakan, kesejahteraan hanya ada dalam program tanpa realita. Kenapa kita tidak pernah mengingat pada kata malu?

Kehidupan dan pergaulan pun semakin jauh dari harapan karena kita tidak pernah memakai kata malu. Pergaulan muda mudi tanpa batas, perzinaan di mana-mana yang sangat mengotori kehidupan. Kita membiarkan generasi muda dengan kebebasan tanpa bimbingan. Orang tua tidak pernah mengajarkan kata malu kepada anaknya yang menyebabkan banyak kemaluan rusak sebelum waktunya.

Sebenarnya kata malu sangat penting kita tanamkan di dalam dada karena ia dapat melindungi diri dari segala bentuk pelanggaran. Bila kita punya rasa malu maka tidak akan melakukan hal-hal melampaui batas, kita pasti malu kepada Allah swt sebagai implemetasinya. Dengan malu kepadaNya maka kita akan malu kepada sesama, tentu akan menjadikan kehidupan lebih indah dan tentram. Keadilan pasti dapat dilaksanakan, kesejahteraan pasti kita dapatkan dan ketentraman hati akan tercipta. Wallahu ’aklam

From → opini

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: