Skip to content

MANUSIA, AKAL DAN WAHYU

15 November 2009

Dunia ini dipenuhi oleh berbagai macam makhluk ciptaan Allah swt baik yang hidup maupun benda mati, seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, batu, besi, dan lain sebagainya. Semua makhluk ini mempunya tingkat masing-masing dan manusia merupakan makhluk Tuhan yang istimewa dan tertinggi tingkatnya dibandingkan dengan makhluk lainnya.

Mengapa manusia mendapatkan predikat ini? Ada beberapa hal yang patut buat manusia antaranya:

1. Manusia memiliki bentuk yang lebih indah dari makhluk lainnya sehingga memungkinkan ia mencapai kemajuan dalam hidupnya. Allah SWT berfirman pada surat At-Tin ayat 4, yang terjemahnya: “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

2. Manusia memiliki jasmani dan rohani. Karena rohanilah maka dinamakan manusia. Pepatah arab mengatakan: “Hadapilah jiwamu dan sempurnakanlah keutamaan-keutamaannya karena engkau disebut manusia bukan karena tubuhmu tetapi karena jiwamu”. Rohani (jiwa) itu terbagi kepada akal pikiran, perasaan dan kemauan. Dengan akal manusia dapat menimbang mana yang benar dan salah, yang dapat menghasilkan ilmu pengetahuan. Dengan perasaan manusia dapat memutuskan sesuatu itu baik atau buruk, indah atau jelek. Dengan kemauan mendorong manusia berbuat sesuatu secara dinamis dan kreatif. Ketiga fungsi ini bekerja secara kolektif dan terpadu.

3. Manusia diamanahkan jabatan khalifah dibumi untuk mengatur dan memerintah dengan sebaik-baiknya, dengan kemampuan jasmani dan rohaninya. Sebagai pedoman kepadanya diberikan wahyu melalui para Rasul untuk membantu akal manusia, perasaan dan kemauan yang serba terbatas.

Memang manusia dengan kekuatan jasmani dan rohaninya dapat mengatur dirinya tetapi wahyu atau agama sangat diperlukan manusia, karena :

a. Kemampuan manusia memang hebat dibandingkan dengan makhluk lainnya tetapi punya keterbatasan dan kelemahan akibat warisan keturunan, latar belakang kulturnya. Akibatnya pandangan pikiran pun saling berbeda dalam menanggapi sesuatu, bila dikatakan baik belum tentu baik buat semuanya. Seperti kata Demokritos bahwa kebenaran itu dalam sekali letaknya, tidak mungkin terjangkau semuanya oleh semua manusia. Malahan aliran Sufisme dalam filsafat Yunani menganggap kebenaran yang sebenarnya tidak dapat dicapai oleh manusia. Sebab kebajikan itu baik yang benar atau bathil, yang berhubungan dengan nilai-nilai berada diluar bidang ilmu pengetahuan yang disanggupi manusia. Jadi satu-satunya jalan untuk mengatasi problem ini haruslah melalui wahyu agama. Wahyu berasal dari Tuhan yang tidak memiliki warisan keturunan dan latar belakang kulturnya. Sudah tentu kebenaran yang diberikan bersifat mutlak dan tidak perlu diragukan serta bersifat universal.

b. Di samping akal manusia masih memiliki kelemahan lain. Ia dapat dikalahkan oleh nafsu yang selalu mengajak manusia kepada kejahatan yang cukup menyulitkan manusia menuju kebenaran dan kebajikan. Manusia mempunyai musuh besar yaitu setan yang terus menerus menggodanya, yang selalu menyiramkan nafsu supaya berkembang. Bila akal manusia menang ia akan naik melebihi derajat malaikat, tetapi bila terkalahkan ia menjadi budak setan yang lebih rendah dari hewan. Untuk melawan hal ini, akal sendiri kewalahan. Disinilah diperlukan agama sebagai penunjangnya, sebagai sumber moral. Agama terlepas dari benar dan salah ajarannya dengan kepercayaan kepada Tuhan dan hari kebangkitan, merupakan dasar yang kuat bagi moral. Kalau agama hancur tidak ada yang dapat menggantikannya karena tidak memiliki kekuatan yang sama.

c. Dalam kehidupan manusia selalu dirangsang untuk memikirkan rahasia alam semesta ini. Ingin menyingkap tabir rahasia dibalik alam nyata, alam gaib, hidup sesudah mati dan masalah rohaniah lainnya. Akal mencoba menelusuri dengan daya pikirannya yang terbatas. Karena yang dicari bersifat gaib, akal gagal mencapainya sebab tidak termasuk daerah operasionalnya. Allah swt berfirman: “Dan kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (QS. An-Naml 64).

Akal memang suatu timbangan yang tepat dan bisa dipercayai, tetapi menggunakan akal untuk mencari hakikat dan segala yang berhubungan dengan alam gaib sama halnya menggunakan timbangan emas untuk menimbang gunung, demikian ungkapan Ibnu Khaldun dalam bukunya “Muqaddimah Ibnu Khaldun”. Demikian pula Herbert Spencer, mengatakan “ilmu alam memberikan batas tertentu yang dapat dijangkau akal yang menghasilkan ilmu tetapi tidak akan mampu mengenal sebab pertama (Tuhan) dan bagaimana hakikatnya. Disinilah diperlukan bimbingan wahyu untuk menghilangkan kelemahannya.

Demikianlah Allah swt menciptakan manusia dengan tingkat kesempurnaan yang tinggi sehingga kita dibebankan kewajiban untuk menyembahNya sampai menjadi hambaNya dan menjadi khalifah dimuka bumi dengan memanfaatkan akal dan agama supaya terciptalah suatu keharmonisan dalam kelangsungan hidup di dunia ini sampai hari kiamat nanti.

From → agama

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: