Skip to content

PILAR PERKAWINAN

21 November 2009

Manusia untuk dapat mempertahankan keturunannya di dunia ini, tentu harus melakukan perkawinan. Perkawinan antara laki-laki dan wanita dalam satu ikatan yang disebut aqad. Begitu ikrar nikah dikumandangkan maka akan menjadi satu pasangan perkawinan. Perkawinan menuntut kemampuan adaptasi, penyesuaian antar pasangan oleh karena itu perbedaan latar belakang keluarga, pendidikan dan kebiasaan adat istiada.

Pasangan menghadapi tantangan kehidupan nyata yang menuntut tingkat kematangan kepribadian tertentu untuk melewatinya dengan mulus. Banyak perbadaan yang tidak terelakkan untuk menjadi sumber komplik dalam perkawinan.
Pasangan perkawinan tentu dari yang berbeda, tidak akan pernah memiliki perspektif yang sama, kebutuhan berbeda, dan nilai-nilai yang dianut pun tentu banyak yang berbeda, walaupun ada persamaan hanya sedikit.
Selayaknya pasangan harus menerima perbedaan essensial diri masing-masing dan berupaya mencari titik temu yang dapat disepakati secara bersama, untuk dapat dijalankan bersama sehingga tidak terjadi polemik dalam perkawinan.
Ada empat pilar yang disarankan para ahli spikologi untuk membuat perkawinan langgeng, antaranya:
1. Cinta kasih yang tulus dan rasa hormat antarpasangan: Atas dasar pilar ini maka dinamika interrelasi antar pasangan menjadi nyaman. Ada kesediaan untuk saling mendengar pada apa yang disampaikan pasangan. Masing-masing menghargai pendapat pasangan sehingga terjadi diskusi yang menarik dalam upaya pemecahan masalah. Selalu membuka pintu maaf, menghargai, perhatian akan kesukaan pasangan, kesenagan dan minat, dan lainnya.
2. Keterbukaan berdasar kesepakatan pembicaraan pada saat awal pernikahan dalam pengelolaan penghasilan keluarga. Kesepakatan dalam pengelolaan keuangan akan menghindarkan saling curiga. Perkawinan dual-career saat ini memang menjadi hal yang biasa. Suami isteri memiliki karir masing-masing namun suami seyogyanya mengambil peran dominan dalam menafkahi keluarga.
Kalaupun ada kontribusi pihak isteri, hal itu tetap sebagai koridor pendukung. Untuk menjaga kondisi yang tidak terelkakan seperti PHK, sakit butuh biaya besar, dan lainnya.
3. Penyesuaian dalam kehidupan seksual dengan upaya untuk memperoleh kondisi “well-being” (kenyamanan psikoseksual) antar pasangan sangat didukung oleh respek antarpasangan dengan komunikasi yang nyaman, jalinan kasih, dan ketertarikan seksual yang terjaga.
4. Kebersamaan dalam aktifitas spiritual. Usahakan antar pasangan dapat melakukan ritual secara bersama dengan suami/istri, anak atau keluarga.
Semoga bermanfaat.

From → wanita

2 Komentar
  1. nambah ilmu, mas..

  2. citromduro permalink

    jalinan kekeluargaan dan komunikasi yang baik dalam keluarga adalah sebagai pilar

    ringan sama dijinjing berat sama dipikul

    apa kabar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: