Skip to content

UJIAN NASIONAL (UN), JADI POLEMIK

16 Desember 2009

Dunia pendidikan selalu menuai masalah, salah satu masalah yang belum tuntas alias masih pro-kontra adalah Ujian Nasional (UN). Ujian Nasional merupakan salah satu cara pemerintah untuk menstandarkan mutu pendidikan di seluruh Indonesia. Hal ini menimbulkan berbagai masalah yang membuat tujuan tidak tercapai.

Pelaksanaan UN yang sudah berlangsung tahun lalu, terjadi hal-hal seperti banyak siswa yang tidak lulus, guru di teror orang tua murid, pengrusakan fasilitas sekolah, banyak murid shock atau trauma dengan UN, terjadinya kejanggalan kelulusan (yang pinter tidak lulus, yang bodoh lulus), banyak guru menjadi kacok membantu siswa menjawab soal, dan maraknya protes serta demo yang sudah berlangsung beberapa kali di seluruh Indonesia.
Kemarin saya menonton dialog remaja di Aceh yang menghadirkan beberapa nara sumber, antaranya pemerhati pendidikan, kepala persatuan guru dan siswa SMU Modal Bangsa Banda Aceh. Kesimpulan yang dapat diambil bahwa sebenarnya UN sangat memberatkan para siswa dan orang tua terutama di pedesaan. Sebaiknya UN diganti dengan bentuk yang lain agar lebih memberikan harapan buat dunia pendidikan, bukan menjadi momok dan ancaman yang menakutkan.
Sebenarnya dunia pendidikan kita harus dibenahi secara permanen dan tidak memaksakan kehendak atas tujuan tertentu, misalnya ganti menteri maka akan berganti kebijakan yang membuat salah melangkah para pelaksana dan memakan waktu untuk adjusmentnya. Peningkatan mutu guru yang benar-benar bermutu jangan hanya program, untuk menghabiskan dana. Pengadaan fasilitas sekolah yang memenuhi standar yang dibutuhkan di seluruh Indonesia. Infrastruktur yang memadai baik sekolah maupun sarana pendukungnya sehingga membuat para siswa dapat mencapai sekolah dengan mudah. Kesejahteraan guru juga harus diperhatikan, terutama guru honor atau kontrak, jangan selalu gaji terlambat bahkan tidak dibayar. Dan masih banyak hal-hal lain yang harus dibenahi, sebenarnya mereka semua tahu apa yang harus dilakukan.
Bila semua hal di atas dapat dilaksanakan maka semua sekolah akan menjadi favorit karena punya kemampanan yang sama, tidak seperti sekarang ini adanya sekolah favorit dan terbelakang, mengakibatkan distorsi yang sangat berbahaya bagi dunia pendidikan, yang kita rasakan saat ini.
Bila masyarakat banyak yang menginginkan UN ditiadakan maka pemerintah harus dengan segera mencari solusi yang tepat agar tujuan pendidikan untuk mencerdaskan bangsa dapat terwujud. Kita ingin lahirnya habibi-habibi baru, sumitro-sumitro baru tapi kita tidak berbuat dengan benar dan efektif tapi hanya menghabiskan dana APBN setiap tahunnya yang sudah di plot. Ini sungguh delema yang membosankan setiap tahunnya.

Salah satu demo yang berlangsung di Banda Aceh beberapa waktu lalu, mengikuti rangkaian demo yang lainnya.

From → opini

4 Komentar
  1. jauh dibandingkan dengan produk pendidikan tempoe doloe mas

    terus bagaimana ya………..?????

    sekaligus mengucapkan selamat tahun baru hijriyah 1431 H

  2. standar kelulusan tinggi
    tapi kwalitas lulusan kayaknya tidak ikut meningkat tuh mas

  3. standart kelulusan semakin tinggi tapi bukan memperbaiki kualitas lulusan terkesan hanya gengsi gengsian aja kalau standart pendidikan kita seakan bagus dengan standart nilai yang ditinggikan

  4. pertamax

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: