Skip to content

13.000 BIBIT POHON REBOISASI TNGL HANCUR

21 Desember 2009

Sebanyak 13.000 bibit pohon berbagai jenis untuk keperluan rehabilitasi Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) hancur oleh para perambah. Sejak terjadi perambahan kembali oleh warga di sekitar Taman Nasional Gunung Leuser di wilayah Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, sebulan terakhir, tercatat 10 hektare areal yang direhabilitasi kembali rusak.

“Jika dihitung satu hektar areal yang direhabilitasi terdapat 1.300 bibit tanaman yang ditanam, berarti sudah ada 13.000 bibit tanaman baru yang hancur karena perambahan warga. Sebenarnya ini sangat disayangkan, mengingat banyak di antaranya sudah mulai bisa tumbuh,” ujar Kepala Seksi Pengelolaan TNGL Wilayah VI Besitang Subhan, saat dihubungi dari Medan, Senin (21/12/2009).

Sebelum tahun 2006, kawasan zona inti TNGL di Kabupaten Langkat menjadi areal perambahan warga. Selain itu, kawasan yang merupakan hutan hujan dataran rendah terluas di Sumatera Utara ini juga menjadi sasaran pembalakan liar. Kondisi ini memungkinkan TNGL menjadi tempat penampungan bagi ratusan pengungsi asal Aceh yang membanjiri Langkat, sejak masa darurat militer awal tahun 2000.

Berbagai jenis bibit tanaman yang hancur antara lain damar laut, meranti merah hingga sungkai, yang merupakan tanaman asli TNGL. Menurut Subhan, dari tiga kali perambahan warga selama sebulan terakhir, sebenarnya Balai Besar TNGL sudah cukup persuasif mencegah meluasnya areal perambahan.

Namun dia mengatakan, bila Balai Besar TNGL tak bersikap tegas, kerusakan areal yang direhabilitasi bisa lebih luas lagi. “Saat ini saja yang rusak sudah 10 hektar. Itu dari tiga kali perambahan. Kalau kami tak bisa bersikap tegas, percuma saja saja upaya rehabilitasi yang telah kami lakukan,” katanya.

Kawasan TNGL di wilayah Kabupaten Langkat sejak 2006 ditertibkan dari para perambah. Total areal hutan TNGL hingga saat ini mencapai 17.726 hektar. Sebagian besar di antaranya kawasan hutan yang berada di Kabupaten Langkat.

Upaya penertiban perambah yang dilakukan Balai Besar TNGL bersama polisi sebenarnya membuahkan hasil. Menurut Subhan, Balai Besar TNGL berhasil mengusir semua perambah di kawasan zona inti. Sebagian besar kawasan zona inti yang ditertibkan dari perambah tersebut kemudian direhabilitasi melalui program Gerakan Rehabilitasi Lahan (Gerhan).

Akan tetapi, meski berhasil mengusir semua perambah, Balai Besar TNGL masih belum dapat merelokasi pengungsi asal Aceh yang masih mendiami zona inti. Data Balai Besar TNGL mencatat, terdapat 554 keluarga pengungsi yang masih berdiam di zona inti dan mengusahakan areal TNGL menjadi perkebunan sawit. Keberadaan para pengungsi asal Aceh ini yang kembali memicu warga melakukan perambahan

Sumber: kompas.com

2 Komentar
  1. Ir.fan permalink

    bagus jg artikel’a
    tp saya lg nyari data-data tumbuhan obat yg ada di TNGL,

    skalian minta tolong ni
    lw ad yang tw
    d bantu y…

  2. selamatkan bumi, hijaukan bumi…
    http://boeangsaoet.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: