Skip to content

WH (Polisi Syariat) di Aceh

16 Januari 2010

Aceh merupakan daerah yang menjalankan praktik Syariat Islam dan sudah berlangsung sekitar 10 tahun sejak diikrarkan. Untuk menunjang aktivitas pelaksanaan syariat Islam maka dibentuk suatu lembaga yang bernama Wilayatul Hisbah (WH), lembaga ini sebagai penindak awal dari perilaku masyarakat Aceh yang menyimpang dari syariat. Misalnya perjudian, perzinahan, pembunuhan, dan lain sebagainya. Mereka juga dibantu oleh polisi negara sebagai tindak lanjutnya.

Belakangan banyak terdengar kabar bahwa mereka (WH) sering melakukan tindakan melawan syariat Islam seperti pemerkosaan di Langsa, ketangkap pacaran, ketangkap khalwat di dalam WC (di ulee kareng), pemukulan kepada korban, dan lain-lain. Ini mencerminkan prilaku yang tidak sehat dari personil anggota WH. Seharusnya tidak terjadi karena mereka semua ditugaskan untuk memberantas, bukan pelaksana.
Masyarakat sekarang ini menjadi bingung, kenapa banyak terjadi pelanggaran oleh anggota WH. Apakah tidak tepat adanya WH di Aceh atau proses rekruitmen yang salah. Bila layak adanya WH maka proses perekrutan yang harus diperketat seperti ketua MPU Aceh paparkan beberapa waktu lalu. Jangan sembarang orang dijadikan anggota WH karena resiko yang diemban cukup besar, mereka harus bertanggungjawab atas semua usaha penegakan Syariat Islam di Aceh. Bila proses salah maka akan menjadi penghancur syariat, seperti sekarang ini. Cintra semakin turun artinya masyarakat Aceh menganggap remeh anggota WH seperti Satpol PP yang punya kinerja buruk bagi masyarakat.
Ke depannya kita berharap bahwa anggota WH benar-benar orang yang punya ilmu agama (alim), tekun beribadah dan taqwa, sudah punya keluarga (untuk menahan syahwat), sehingga mereka mampu bekerja sesuai yang diharapkan dan penegakan syariat Islam dapat terus ditingkatkan.
Keberadaan WH akan menjadi partner bagi masyarakat Aceh dalam memberantas maksiat dan menjaga kestabilan kehidupan. Semoga

From → opini

19 Komentar
  1. Assalamualaikum wr wb.

    Memang pelaksanaan Syariat Islam (SI) di Aceh seperti dipaksakan sehingga kalangan pejabat tidak mampu untuk memenuhi tuntutan itu. Setiap pelanggaran yang mereka lakukan selalu mentok alias tidak diadili atau hilang begitu saja.
    Syariat Islam hanya untuk masyarakat biasa atau kalangan bawah saja… mereka di cambuk dan lain sebagainya. Nauzubillah…🙂
    Semua kita pasti mengakui, “Hukum itu akan tumpul ke atas”

  2. husnaa permalink

    * HOT NEWS : Kasatpol PP / WH Edi Syahputra Bentrok Dengan Danton Satpol PP/WH Karena Ia Menangkap Ajudan Walikota Banda Aceh. Share – Bagikan Info Ini Ke Sahabat FB Anda !

    1 Pasangan Khalwat Di Dalam Mobil Di Tangkap WH, Akhirnya Di Lepaskan Begitu Saja, Karena Terduga Khalwat Menelpon Bekingnya Kasatpol Edi Syahputra Untuk Minta Di Lepaskan.

    * Terduga Khalwat Adalah Ajudan Walikota Banda Aceh (AF) Yang Di Tangkap WH Di Ulee Lheu, CD (Celana Dalam) dan Kutang Sebagai Barang Bukti Ikut Di Bakar Oleh Kasatpol PP Edi Syahputra Untuk Menghilangkan Barang Bukti.

    Banda Aceh – Kesal ? Mungkin ini yang dirasakan sebagian besar anggota Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh. Maklum, tugas mereka sebagai “pintu gerbang” Syariat Islam nyaris tak berharga saat beradu kepentingan di tingkat yang lebih tinggi di Kota Banda Aceh ini.

    Pekerjaan anggota Satpol PP dan WH, seperti tak bermakna. Tanpa ada pemeriksaan, para pelaku yang terungkap justru dilepaskan oleh pimpinan mereka sendiri. Yaitu Kepala Satuan Polisi (Kastpol) Pramong Praja dan Wilayatul Hisbah Kota Banda Aceh, Edi Syahputra. SH

    Sumber Tabloid Modus di Pemko Banda Aceh serta Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh mengaku, kondisi yang terjadi membuat mereka sakit hati dan merasa dilecehkan oleh atasan mereka sendiri.

    Hari Rabu, 10 April 2013, laporan tak elok ini masuk ke meja Redaksi Tabloid Modus Aceh. Sumber yang tak ingin disebutkan namanya tadi, menceritakan kronologis kejadian tersebut secara gambling.

    Bermula dari penangkapan sepasang insane non-muhrim di pantai Ulee Lhee, hari Selasa dua pecan lalu. Sekitar pukul 15:00 Wib,beberapa anggota Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh melakukan patrol rutin. Hari itu, mereka melewati kawasan Lamteumen, masuk ke Gampong Lampoh Daya, kemudian memutar kea rah pantai Ulee Lhee, Banda Aceh.

    Saat memasuki lawasan wisata itu, berjarak 2 Km dari pusat kota, anggota Satpol PP dan WH melihat satu unit mobil merek ‘Swift’ warna merah maron terparkir ditepi jalan yang lengang. Anehnya, mesin mobil bernomor polisi BL 303 LC itu dalam keadaan hidup. Mereka curiga, petugas mendekati mobil itu, Hasilnya?, “Kami terus memantau monil itu”, kata sumber Modus tersebut.

    Benar saja. Ketika anggota SatpolPP dan WH Kota Banda Aceh mendekati mobil yang disasar, ternyata ada dua insane berlainan jenis di dalam mobil. Sambil mengetuk-ngetuk jendela kaca jendela, anggota Satpol PP dan WH berkata “Dalam Syariat wanita dan pria yang bukan mahram berdua-duaan ditempat sepi, di dalam mobil yang tertutup kaca gelap, hukumnya haram”.

    Kemudian,petugas menyuruh keduanya untuk keluar dari dalam mobil. Saat itu, kedua insane tadi terlihat panic dan buru-buru memakai kembali pakaian mereka. Meskipun begitu, pelaku pria akhirnya keluar juga dari mobil ‘Swift’ nya, sementara sang wanita tetap berada di dalam mobil.

    “Assalamualaikum”, sapa petugas Satpol PP dan WH kepada pelaku yang berinsial AF itu.

    Diketahui, ternyata AF berprofesi sebagai Ajudan Walikota Banda Aceh, sementara teman wanitanya diduga adalah seorang mahasiswi dari Fakultas Kedokteran, di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Banda Aceh. Sebut sajanamanya Bunga (samara-red).

    Parahnya lagi, saat petugas memeriksa, AF merasa tidak bersalah dan sempat terjadi perdebatan. “Saya salah apa, saya salah apa..!!” kata AF pada petugas.

    Sementara petugas yang lain, terus melakukan pemeriksaan di dalam mobil Toyota Swift merah maron itu. Celakanya, petugas malah menemukan “celana dalam wanita warna merah beserta kutang (bra)”. Barang bukti itu pun segera diamankan petugas.

    Ternyata kata sumber Tabloid Modus tadi, AF memiliki satu unit HP lainnya di dalam saku celananya. Nah, disaat petugas hendak bergerakpulang, maka saat itulah AF menelpon Kasatpol PP dan WH Kota Banda Aceh, Edi Syahputra.

    Sejurus kemudian, Kasatpol tiba di tempat kejadian perkara (TKP) namun petugas sudah meninggalkan TKP. Kasatpol lalu menghubungi Danton Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh, Ismail. Dalam pembicaraannya itu, Kasatpol meminta pelaku untuk dilepaskan dan diturunkan dari mobil WH di kawasan Punge, Kecanatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh.

    Melihat hal itu, tentu sebagian besar anggota yang bertugas hari itu tidak terima. Perdebatan sengit tak terelakkan lagi antara Danton dan Kasatpol.

    Sesuai procedural, setiap pelanggar harus menjalani pemeriksaan terlebih dahulu di kantor, lalu mengikuti proses yang sudah ditentukan. Tapi, untuk kasus yang satu ini, hal tersebut tidak dilakukan sebagaimana mestinya.

    Kedua pelanggar Syariat yang ditangkap itu justru ingin dilepaskan dan diturunkan dipinggir jalan oleh Kasatpol PP dan WH Kota Banda Aceh.

    Ternyata, keinginan Kasatpol tidak dipenuhi oleh Danton ismail. Begitupun, Kasatpol Edi Syahputra tidak menyerah begitu saja. Ketika mobil patrol Satpol PP dan WH yang sedang membawa para pelaku memasuki kawasan Lapangan Blang Padang, tiba-tiba satu unit mobil Toyota Avanza warna Hitam ber-plat Merah menghadang mobil patrol itu. Sontak saja, seluruh anggota Satpol PP dan WH terkejut.

    Karena yang keluar dari mobil Avanza bernomor polisi BL 136 itu adalah Kasatpol PP dan WH Banda Aceh, Edi Syahputra.

    Tampa mengucapkan salam dan basa-basi layaknya seorang pemimpin, Edi langsung mengambil pelaku diduga berkhalwat itu dan memasukkannya ke dalam mobil Avanza tadi. Mereka langsung pergi dan diketahui, kedua pelaku itu dilepaskan dengan seenak hati di depan Gedung DPR Kota Banda Aceh.

    “Sungguh pimpinan tidak menghargai apa yang telah kami kerjakan” kata sumber Modus tersebut dengan nada yang kesal.

    Sementara itu, mobil “Toyota Swift” warna merah maron dengan nomor polisi BL 303 LC yang dijadikan barang bukti, diperintahkan intuk di parker ke Warkop Topik Kupi yang berada disamping Kantor Departemen Kementerian Agama Aceh. Sedangkan kunci mobilnya di titipkan pada Provos Kantor Satpol PP dan WH Banda Aceh.

    Tak hanya itu, barang bukti berupa ‘celana dalam wanita dan kutang (bra)’ yang dibawa pulang oleh para petugas, juga diambil oleh Kasatpol dan dibawa kebelakang kantor untuk selanjutnya dibakar. Kesan yang terlihat adalah untuk menghilangkan barang bukti oleh pimpinan.

    “Kenapa hal itu bisa terjadi?”. Menurut sumber Tabloid Modus tadi, Kasatpol melakukan hal itu dikarenakan merasa tidak enak hati telah menangkap seorang “Ajudan Walikota Banda Aceh”.

    Tapi persoalannya adalah, hokum haruslah ditegakkan kepada siapapun tanpa pandang bulu. Apakah karena pelaku seorang Ajudan Walikota Banda Aceh, sehingga hokum tidak berlaku bagi dirinya.

    Kekesalan masih terlihat diwajah sejumlah anggota Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh. Kepada wartawan Tabloid Modus ini secara jujur dan terus terang mereka mengaku kecewa dengan sikap pemimpinya. “Saya tidak peduli siapapun, Kasatpol PP dan WH Kota Banda Aceh sekalipun, asalkan hokum tetap ditegakkan untuk semua orang tanpa pandang bulu.

    “Masalahnya, semua barang bukti telah dihilangkan beserta kedua pelakunya dilepaskan”,katanya dengan nada suara yang tinggi.

    Sebab, sambungnya, ketika hokum yang berpegang pada syariat ini dilanggar, berarti mereka telah menentang syariat dari Allah. Padahal Walikota Banda Aceh, Mawardy Nurdin bersama Wakilnya Illiza Sa’aduddin Djamal ingin menjadikan Banda Aceh ini sebagai Kota Madani.

    Bagaimana syariat Islam bisa berjalan dengan baik, bila pimpinan WH nya sendiri tidak mampu konsisten dan berlaku adil kepada semua pelaku maksiat.

    Sumber : Tabloid Modus Aceh, Edisi 50, Terbitan tanggal 15 – 21 April 2013 . Foto : Repro Tabloid Modus.

  3. husnaa permalink

    Kepla wh dan stpolpp biadap dan tak punya otak ,otak ada tpi tak dipkek,masak msyrkat kecil pcran ja ditangkap ,klu pjbat tak ditngkap dilpas seenaknya ja sperti ajudan wlikota msak tak dihkum dan tak dibrihkman ,mau jadi pa aceh ini klu plih kasi,hlngkan saja wh dan stpol pp anjing smuanya tak punya otak ,otak sudah sprti binatang,pjbt tnggi buat undang2 tpi mn undang2 tak dipkek ,hnya dipkek untk msyrkat kecil ,pjbt dilpas ,wh stpol pp pli ksih ,tak adil aceh ini krna undang2 sperti itu ,biadap smuanya stpol pp dan WH,bntang smunya WH dan satpol pp ANjing smuanya klian ……

  4. Mmg betul apa yg adun sampaikan dan kondisi itu cocok u masa dulu dimana rakyat Aceh masih kental agama Islamnya… tapi sekarang terutama pasca stunami rakyat Aceh sudah takut dgn Islam… Islam yes, syari’at no… ini sebenarnya yg jd momok bg kita semua.
    Semoga kita berharap bahwa ke depan bisa berubah dgn sll mengedepankan Islam dlm kehidupan ini…

  5. Sebenarnya bukan WH saja yang berkewajiban melaksanakan syariat islam kaffah WH hanya alat kontrol, ini adalah tugas kita semua.Mulai dari pimpinan ulama umara, dan umat islam sendiri, bayak yang sudah bekerja untuk menegakkan syariat tapi belum bekerjasama.Kita sudah ada qanun ada lembaga adat tingkat gampong dan mukim.Kita harus sama sama melaksanakan Qanun, hadih maja adat bak poteumruhom hukom bak syiah kuala,adat ngen hukum lage zat ngen sifet. ini yang harus di sosialisai oleh penguasa dan ulama.

  6. salam, WH saat ini telah berubah dari tujuan semua sebagai polisi syariat

  7. mana yang lebih berperan di aceh, WH atau polisi dari kepolisian RI?

  8. buraqmanari permalink

    Salam, memang betul kata MPU aceh agar dlm prengkrutan anggota WH hrus benar2 selektif. mengingat citra WH sebagai pendekar syariat telah tercoreng ada baiknya itu menjadi bahan acuan buat WH Aceh kedepan…..

  9. mas link sudah terpasang silahkan lihat di http://monztec.com

    di tunggu link nya di web ini

  10. salam kenal mas, habibie dari ketapang

  11. sungguh memprihatinkan bila melihat WH yg seharusnya menjadi teladan malah memberi contoh yg buruk spt kasus pemerkosaan gadis yang tertangkap sedang pacaran.

  12. nah disini masuk

  13. wah sangat disayangkan kalau sampai begitu
    jangan sampai masyarakat tidak menaruh hormat lagi karena kebanyakan sekarang begitu, orang2 yang punya jabatan lebih suka menindas dibandng mengayomi

  14. Kekuasaan dapat membuat orang lupa diri.lupa akan tugas & tanggung jawabnya. semoga kehidupan masyarakat di Aceh bisa semakin baik.

    Btw, bolehkah saya bertukar link dengan blog ini om?
    link om sudah saya add diblogroll saya.
    Terimakasih

  15. citromduro permalink

    menyapa sobat dipagi buta semoga sehat selalu
    maaf baru bisa berkunjung lagi mas
    lagi menyibukkan diri

  16. salam hangat dari pamekasan madura

  17. buraqmanari permalink

    assalamu’alaikum, izin yang pertamax….
    WH, adalah tugas mulia yakni membidangi penegakan syariat islam dan Aceh adalah provinsi satu2nya diindonesia yang memiliki WH. Namun akibat dari serangkaian peristiwa yang dilakukan oleh anggotanya WH sekarang menjadi cibiran masyarakat, WH sepertinya tidak mendapat tempat lagi dihati masyarakat aceh, Semua karena ulah dari WH sendiri yang tidak teguh akan sumpah jabatannya dan tidak pula “berakhlaq” islam. Sungguh saya kecewa dgn kinerja WH yang telah merugikan orang lain dan bertindak sewenang- wenang dalam bertugas,…
    (maaf kepanjangan tengku,…. )🙂

Trackbacks & Pingbacks

  1. wah.., triknya mas Citro mantep banget « Habibie's Blog
  2. Apakah Ini Bisa Dikatakan Sebagai Trick « CITRO MADURA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: