Skip to content

SIAPAKAH YANG PINTAR?

25 Maret 2010

Manusia dilahirkan sama yaitu melalui proses kecuali adam dan hawa yang melalui proses khusus. Kita diberikan kelebihan dan kekurangan, di berikan physic dan non physic, diberikan akal dan hawa nafsu, diberikan kemampuan berpikir cerdas dan lemot, dan banyak sekali yang Allah swt berikan kepada yang namanya manusia. Tidak cukup kemampuan kita untuk menghitung apa saja yang melekat pada diri kita dan ini semua hanya dapat kita syukuri.

Sejak lahir kita di didik dan diajarkan segala macam hal-hal yang ada di dunia ini, pendidikan yang bertahap baik formal maupun informal. Semua dilakukan atas dasar kemauan dan kodrat agar manusia mampu bertahan di muka bumi dengan embel-embel pokok adalah khalifah. Walaupun alam seisinya mengatakan bahwa manusia itu bodoh mau menerima beban ini.
Kadang kala perjalanan hidup seseorang menjadi seorang pemimpin, wakil rakyat, babu, penarik becak, sopir, satpam, dan lainnya. Semua ini bagian dari siklus kehidupan agar terjadinya keseimbangan, sehingga tujuan hidup dapat tercapai. Kita tidak perlu merasa risih dan sungkan bila jadi “orang kecil” dan tidak perlu berbangga diri dengan “pangkat” yang tinggi karena semua ini sifatnya sementara. Yang perlu dilakukan adalah melakukan sesuatu sesuai kemampuan yang telah diemban.
Seorang pemimpin tentu punya kemampuan yang lebih dari para bawahannya dan dapat menjadi acuan bagi setiap orang untuk bertindak dalam rangka menjalani suatu sistim. Ia pasti punya daya nalar tinggi dan seabrek background untuk bertindak sehingga setiap keputusan menjadi baik dan bermanfaat. Tidak demikian yang terjadi di tempatku kerja. Seorang big bos mempunyai informan yang notabene dapat merusak tatanan kerja karena sering memberikan informasi yang salah. Orang bekerja baik dikabarkan bahwa kerjanya tidak becus, tidak baik, dan lain sebagainya. Demikian orang-orang yang kerjanya kurang baik maka ia informasikan baik, tekun rajin dan bertanggungjawab. Semua ini dilakukan untuk menjaga posisinya agar tidak di PHK karena dia sendiri kerjanya tidak beres. Ia berlagu kepada siapa saja yang termakan isunya, terutama ia suntikkan ke big bos. Dan sang big bos percaya sepenuhnya kepadanya, yang membuat orang lain cengar cengir dan serba salah dalam bekerja. Kalau dalam bahasa Aceh “galak that lieh punggong”.
Seharusnya kita harus melihat dan menganalisa dengan baik dan seksama, jangan sepenuhnya percaya pada informan sembarangan. Cek n ricek itu sangat perlu untuk menjaga stabilitas dan keharmonisan kerja lintas bawahan, sehingga dalam pengambilan keputusan tidak ada yang dirugikan. Kalau big bos suka dan senang bergaul dengannya, untuk main catur, pimpong, dan lainnya tidak masalah tapi jangan jadikan dia informan karena pada prinsipnya ia jahat. Ini hanya sebuah renungan berdasarkan nguping kepada kawan-kawan dan siapa tahu menjadi bahan pertimbangan untuk ke depan demi tegaknya sistim yang di bangun, semoga semua bejalan harmonis.

From → opini

2 Komentar
  1. Deni DC permalink

    like this

Trackbacks & Pingbacks

  1. Memancing Inspirasi Untuk Menulis | CiTrO uNiK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: