Skip to content

SUSAHNYA BEPERKARA DENGAN POLISI

3 September 2010

Polisi merupakan pelindung dan pengayom masyarakat, menjaga keamanan agar masyarakat menjadi aman dalam menjalankan aktifitas hidup, tanpa polisi maka suasana kehidupan akan beda rasanya. Mereka direkrut oleh pemerintah dan di gaji untuk menjaga ini semua sehingga kesejahteraan masyarakat tercapai.
Namun di balik ini semua ternyata sulit juga bagi masyarakat yang ingin berurusan dengan polisi. Tidak seperti yang di iming-imingkan institusi, malahan jauh dari harapan.

Ini terjadi ketika kawan saya kecurian laptop di awal ramadhan. Kami sudah berusaha mencari sang pencuri namun tidak ketemu. Anehnya sang pencuri selalu nelpon yang punya laptop, namun kami tidak tahu keberadaannya sehingga sulit ketangkap. Akibat sering di telpon maka kawan saya merayunya dan akhirnya sang pencuri menjumpai korban dengan janji diberikan uang sebesar Rp 2.500.000,- sebagai uang tebusannya.
Ketika mereka berjumpa, korban langsung menangkapnya dan diserahkan ke polisi sektor. Proses pun dilakukan oleh pihak polisi yang akhirnya sang pencuri mengakui perbuatannya, namun laptopnya jauh di kampung. Karena sang pencuri ingin mengelabui korban, laptop dapat uang pun dapat.
Karena laptop jauh di kampungnya maka pihak polisi meminta biaya perjalanan ke sana (kira-kira jauhnya 5 jam perjalanan) sebesar Rp 2 juta. Kami menghubungi pihak keluarga pencuri untuk memintanya, walaupun dengan susah payah untuk mendapatkan uang, mereka terpaksa menanggungnya. Proses pengambilan laptop sekaligus barang bukti berjalan sempurna.
Akhirnya perdamaian dilakukan antara korban dan sang keluarga pencuri, tanpa penahanan lanjutan karena bila dilanjutkan maka ia terjerat hukuman selama 6-7 tahun penjara. Kasihan juga dipenjara karena pencuri masih muda, kemungkinan ia bisa berubah dan berbuat yang baik pasca pelepasannya.
Namun saya jadi kaget ketika melihat besarnya biaya penarikan berkas pengaduan yaitu Rp 3 juta rupiah. Korban menghubungi pihak keluarga, namun akhirnya proses tawar menawar pun terjadi antara keluarga pencuri dengan pihak pilisi. Dan disepakati besarnya biaya penarikan menjadi Rp 1 juta rupiah.
Semua proses ini berjalan sempurna walaupun pihak keluarga pencuri sangat dikorbankan karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Bila keluarga korban menggantikan laptop yang dicuri juga tidak jauh beda harganya dengan biaya untuk polisi.
Saya pernah meng-email pihak LBH Banda Aceh untuk menanyakan perkara kawan ini, namun mereka suruh ke kantor, saya enggan ke kantor karena lagi-lagi takut berurusan dengan duit. Juga pernah saya tanyakan kepada orang-orang yang pernah berpekara umumnya mereka mengatakan segala biaya ditanggung polisi karena itu sudah urusan mereka. Dan pihak polisi lainnya yang saya tanyakan juga menjawab sama seperti di atas, tidak ada biaya kecuali biaya penarikan berkas yang kita berikan seikhlasnya.
Semua sudah jadi bubur, apapun ceritanya sudah terlambat bagi kami, namun ini dapat menjadi pelajaran bagi orang lain yang ingin berpekara agar mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan dengan pihak polisi sehingga tidak dirugikan. Apakah melalui LBH atau lainnya yang dapat meringankan beban orang berpekara.

BlogBooster-The most productive way for mobile blogging. BlogBooster is a multi-service blog editor for iPhone, Android, WebOs and your desktop

From → opini

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: