Skip to content

LAKUKAN SAJA

21 Desember 2011

Tiap orang kadang merasa hidupnya hampa, bingung harus mengerjakan apa. Bedanya ada orang-orang yang sebenarnya menyadari apa hakikat hidup ini dan ada pula yang tak mengerti kehadirannya di dunia ini untuk apa.
Orang yang sadar bahwa tujuannya di ciptakan adalah khalifah fil ardhi, menjadi khalifah di muka bumi. Beribadah, apapun yang di lakukannya di upayakan memiliki nilai ibadah. Jika pun kadang ia menjadi hampa, itu hanya suatu warna tersendiri yang menjadi sebuah masa rehat untuk memikirkan apa yang akan di lakukan selanjutnya. Bukan lena untuk jangka panjang dan kebingungan tanpa sebab dan akibat.
Sedang yang belum paham akan kehadirannya di muka bumi, biasanya akan kurang menghargai nilai usia yang di berikan Allah. Untuk langkahnya pun kadang ia tak paham mengapa ia lakukan dan untuk apa di lakukan.
Bisa jadi, aku dan kau merasa berada pada dua kondisi di atas. Ketika pada satu masa berada di titik puncak semangat menjadi hamba Allah yang bertaqwa, hati kita berbunga-bunga, senyum selalu tersirat karena kita mampu melaksanakan peran sebagai seorang hamba dengan baik. Tapi di masa lain, karena suatu sebab kita berada pada di titik terendah kelemahan sebagai manusia yang bingung hendak melakukan apa dan melangkah ke mana.

Suatu keadaan yang normal, jalani saja. Asalkan jangan sampai kita terlena terlalu lama tanpa mencari pengobar semangat lainnya.
Sebelum menjadi paham, kita adalah hamba yang tak mengerti. Tapi dengan di iringi rasa keingintahuan tentang hakikat penciptaan manusia maka perlahan kita akan bisa menjalani kehidupan lebih bermakna.
Setelah paham akan hakikat penciptaan manusia, sering kita bingung. Merasa tak memiliki kemampuan apapun yang di gunakan sebagai sarana untuk menyampaikan kebenaran.
Tak perlu kita berharap menjadi seorang dai ternama yang mampu mengajak jutaan ummat ke jalan hidayah. Jika kita memang belum mampu untuk melakukan semua itu. Perlahan saja kita lakukan dengan apa yang kita bisa dan kita miliki. Sesuai dengan bidang yang kita kuasai.
Jika kamu bisa menulis, upayakanlah menulis sesuatu yang mampu mengajak orang lain pada cahaya Islam. Mengenal Allah dan RasulNya. Jika kamu penyanyi, nyanyikanlah lirik lagu yang bernafaskan Islam. Amar ma’ruf nahi munkar. Jika kamu senang mendaki gunung, jadikanlah pendakian itu menjadi sarana dakwah bagi teman seperjalananmu dan orang-orang yang kau temui di gunung. Juga sebagai sarana menjaga habitat alam tanpa merusaknya sedikit pun. Jika kau seorang guru, manfaatkanlah kewibawaanmu untuk mendekati murid-muridmu dari hati ke hati. Ajarkan mereka jika mereka menyimpang. Luruskanlah mereka jika mereka bengkok.
Lakukan sebisa kita, Allah menitipkan berbagai kemampuan bukan semata hanya untuk kepentingan dunia dan melupakan akhirat. Jemput keberkahan dengan memaksimalkan kemampuan dan pekerjaan kita semata-mata agar bernilai ibadah. Karena langkah seribu di mulai dari langkah pertama. Pelan-pelan kita jalani.
Paling tidak, dengan melakukan sesuatu yang kita senangi maka tak ada keterpaksaan dalam hati. Hanya dengan meluruskan niat, jadi apa yang kita lakukan bisa menjadi lading amal untuk bekal kelak. Walaupun nantinya kita lelah, akan cukup beristirahat sejenak kemudian melanjutkan perjalanan mengumpulkan keridhaan Allah dalam jejak langkah kita.
Tanpa ada praktek penghambaan kepada Allah. Bisa di pastikan betapa keringnya hidup ini. Layaknya daun kering kurang pengairan, maka akan meranggas perlahan. Begitu pun hati kita, jika tak di basahi dengan amal kebaikan maka hati akan menjadi mati.
Hidup hanya menjadi suatu kefanaan. Monoton. Karena yang di lakukan hanya untuk dunia dan dunia. Tiap harinya hanya berfikir bagaimana meraih dunia. Jika pun secara fisik nampak kebahagiaan. Secara tak kasat mata, ada hati yang mencari suatu kebahagiaan sejati, yang pastinya bukan pada dunia melainkan hanya Allah Azza Wajalla.
Di mulai dengan sedikit berfikir tentang akhirat. Di mulai dengan melakukan sedikit untuk amal kebaikan untuk bekal di akhirat. Maka kelamaan akan menjadi suatu candu. Lakukan saja. Di mulai dari sedikit yang kita bisa daripada tidak melakukan sama sekali. Bukan kuantitas yang Allah lihat. Bukan ketenaran di mata manusia yang Allah nilai. Tapi bagaimana usaha kita untuk sungguh-sungguh menjalankan misi di dunia ini menjadi khalifah fil ardhi dan mempraktekkan penghambaan hanya kepada Allah. Insya Allah

Sumber: Dakwatuna

From → agama, opini

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: