Skip to content

PERJALANAN LINTAS TENGAH-SELATAN

22 Mei 2013

Hari Selasa 14 Mei 2013 saya mendapat giliran untuk menjelajah kawasan hutan Aceh Tengah-Aceh Tenggara, kami berangkat pukul 10.00 WIB dari Banda Aceh menuju kota dingin Takengon, ibukota Aceh Tengah dan bermalam di sana. Perjalanannya aman dan santai saja karena jalan yang mulus dan tidak banyak rintangan berarti walaupun di kawasan pegunungan inang-inang jalan lagi ada perbaikan.

Esok hari kami melanjutkan perjalanan menuju Gayo Luwes, ke Blangkejeren (Ibukota Gayo Luwes). Kami berangkat pukul 13.00 WIB dari Takengon dan tiba di Blang Kejeren pukul 20.00 WIB. Lebih kurang 6 jam perjalanan. Di sini kami melalui jalan-jalan pegunungan yang sangat menakutkan karena jalan yang kecil dan hancur tanpa aspal, membuat licin kalau musim hujan serta rawan longsor. Entah berapa gunung kami lalui, turun gunung dan naik gunung, tinggi sekali. Sampai perbatasan Aceh Tengah dengan Gayo Luwes, tepatnya kampung isei-isei baru ada jalan yang baru siap dibangun (sangat mulus).

Selanjutnya menusuri jalan yang sangat-sangat hancur bahkan tanpa jalan samasekali atau layaknya kita sebut jalan lintas kabupaten. Syukur kami hari itu tidak mendapatkan hujan, saya rasa kalau hujan pasti tidak bisa dilalui karena terjal dan licin. Bila sampai di puncak pegunungan memang pemandangannya sangat indah dengan hutan Gunung Leseur yang masih perawan walaupun ada kawasan tertentu yang sudah gundul. Kami bermalam di kota Blangkejeren untuk istirahat sejenak melepaskan penat dan capek badan di perjalanan.

Esok hari kami melanjutkan perjalanan hari ketiga, dari Blangkejeren menuju Ibukota Aceh Tenggara yaitu Kutacane. Perjalanannya sangat asyik karena lumayan jalannya bagus walaupun sempit dan banyak juga lagi pembangunan pelebaran. Kami berangkat pukul 13.00 WIB dan tiba di Kutacane pukul 15.00 WIB. Istirahat sejenak sampil ngopi di salah satu warung sampai pukul 17.00 WIB, lalu keliling kota untuk melihat keindahan kota yang berbatas langsung dengan Sumatera Utara.

Saya sangat kaget ketika hampir mendekati Ibukota Kuatacane (lebih kurang 20 KM lagi), saya melihat gereja pertama, padahal sebelumnya saya tidak berjumpa dengan mesjid lainnya. Dalam hati terbesit, apakah saya salah jalan atau bukan kawasan Aceh karena di kawasan itu banyak gereja-gereja. Ternyata kamunitas di Kutacane sangat beragam (majemuk) dimana banyak orang non muslim berbaur di sana.

Selanjutnya pukul 18.00 WIB kami menuju Kota Subulussalam melalui Simpang Buloh. Dan tiba pukul 24.00 WIB lalu kami istirahat di sebuah hotel. Dan esok hari kami melanjutkan perjalanan menuju kota Meulaboh dan terakhir tiba kembali di kota kesayangan Banda Aceh pada hari sabtu pukul 15.00 WIB.

Sepanjang perjalanan, yang sangat berkesan bagi saya adalah ketika melintasi Takengon – Blangkejeren. Hampir tidak ada pembangunan di sana, hanya hutan dan jalan yang tidak terurus oleh pihak terkait. Mobil-mobil yang kita jumpai sepanjang jalan per 1 jam sekali. Ini artinya kawasan ini memang sangat rawan dan pertumbuhan ekonomi lemah sekali. Seharusnya pihak terkait harus membuka isolasi kawasan ini dengan membuat jalan atau sarana transportasi dan membuka kawasan wisata pegunungan dan arung jeram sehingga mobilitas menjadi tinggi karena banyak wisatawan akan berkunjung, dan tetap memperhatikan aspek lingkungan yang tetap terjaga karena Gunung Leuser jantung dunia.

Isu saat ini bahwa mereka ingin membentuk propinsi  sendiri yaitu ALA (Aceh Leuser Antara) saya rasa sangat layak dan patut karena mereka ingin membebaskan diri dari terisolasi dan mengelola sendiri aset mereka menuju kesejahteraan yang lebih baik. (Ini terlepas dari asumsi politik di mana pemekaran wilayah agar supaya Aceh tidak akan kacau lagi). Mungkin mereka bosan dengan keadaan sekarang, pembangunan yang tidak merata. Setiap tahun pembangunan hanya pengaspalan Jalan T Daod Beureueh yang masih mulus dan sangat layak ditengah kota. Dan pembangunan lintas timur yang sangat bagus dan mulus. Mereka menutup mata dengan kondisi di kawasan sana, jalan hancur-licin-terjar-longsor), dijadikan momok harian sehingga kita merasa terpaksa melalui kawasan itu. Padahal pihak terkait tahu masalah ini, cuma sekali lagi mereka menutup mata.

Secara real kita tidak bisa menyalahkan si A atau si B karena seharusnya mereka bersatu untuk membangun Aceh merata, bukan sesuai politik yang terjadi. Ibarat Aceh adalah satu kue di pan, bila satu sisi digurus semut maka sisi lain harus bangkit membangun, bukannya dibiarkan saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan dibuat mereka tidak butuh. Semoga ke depan pihak terkait bisa lebih memperhatikan akan kebutuhan di sana, sehingga isu-isu pemekaran tidak mencuat lagi. Semoga… !

4 Komentar
  1. Kadang kamu harus buat keputusan tuk mengalah atau kamu akan kehilangan dia yang kamu cinta hanya karena kamu keras kepala

  2. The future is that you achieve attainment of the actions that you do every day

  3. Lupakan kegagalan, namun selalu ingat sebuah hikmah dari sebuah kegagalan.

  4. kurang fotonya nih bang🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: